🔲 UPDATE

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Perlawanan Berdarah dari Madiun Melawan Daendels Tahun 1810

Ilustrasi.

Kisah heroik Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun yang melawan Daendels pada 1810 demi mempertahankan hutan jati dan harga diri rakyat Jawa.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, jauh sebelum bendera merah putih berkibar, Madiun telah lebih dulu menjadi saksi perlawanan terhadap penjajahan. Tanah ini menyimpan kisah keberanian seorang pemimpin yang menolak tunduk pada kekuasaan asing.

Namanya Raden Ronggo Prawirodirjo III. Ia menjabat sebagai Bupati Wedana Mancanegara Timur dengan pusat kekuasaan di Madiun. Bagi Ronggo, jabatan bukan sekadar kekuasaan, melainkan amanah untuk menjaga tanah dan rakyatnya dari segala bentuk penindasan.

Awal Konflik: Perebutan Hutan Jati Madiun

Konflik bermula pada awal abad ke-19, ketika pemerintahan kolonial di bawah Herman Willem Daendels mulai menguasai sumber daya alam di Jawa, termasuk hutan jati di wilayah Madiun dan Jipang.

Bagi pemerintah kolonial, jati adalah komoditas strategis untuk pembangunan dan perdagangan. Namun bagi masyarakat Madiun, jati adalah urat nadi kehidupan—sumber ekonomi, penghidupan rakyat, serta penopang kekuatan daerah.

Kebijakan pengambilalihan hutan jati memicu ketegangan. Ronggo melihat tindakan tersebut sebagai bentuk perampasan hak rakyat dan ancaman terhadap kedaulatan wilayahnya.

Perang Madiun 1810: Ketika Keris Lebih Dipilih daripada Tunduk

Pada tahun 1810, di saat banyak kerajaan di Jawa memilih berkompromi dengan kekuasaan kolonial, Madiun mengambil jalan berbeda.

Raden Ronggo Prawirodirjo III memilih melawan.

Perlawanan bersenjata pun pecah pada November 1810, yang kemudian dikenal sebagai Perang Madiun. Ini menjadi salah satu bentuk perlawanan awal terhadap kolonialisme Eropa di Jawa.

Pertempuran ini bukan sekadar konflik politik, melainkan perjuangan mempertahankan sumber daya dan martabat rakyat. Bahkan dalam catatan kolonial seperti The 1822 Collection karya C.O. Blagden, disebutkan bahwa pemberontakan Ronggo berkaitan erat dengan perebutan hutan jati di wilayah Madiun.

Makna Perlawanan: Lebih dari Sekadar Sejarah

Perlawanan Ronggo bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah simbol keberanian dan harga diri.

Di setiap sudut Madiun, dari hutan jati hingga aliran Bengawan Solo, tersimpan jejak perjuangan yang tak boleh dilupakan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan telah tumbuh jauh sebelum konsep Indonesia sebagai bangsa terbentuk.

Akhir Perjuangan, Awal Warisan

Raden Ronggo Prawirodirjo III akhirnya gugur dalam perjuangannya. Namun kematiannya bukanlah akhir.

Ia meninggalkan warisan penting: semangat untuk tidak tunduk pada penindasan.

Perlawanan ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari pengorbanan para pemimpin dan rakyat yang berani melawan.


Sejarah memang sering ditulis oleh para pemenang. Namun kisah seperti yang terjadi di Madiun membuktikan bahwa martabat tidak selalu ditentukan oleh siapa yang berkuasa, melainkan oleh siapa yang berani mempertahankan kebenaran.

Raden Ronggo Prawirodirjo III telah membuktikan itu.

Jawa boleh dijajah. Namun semangat perlawanan dari Madiun tidak akan pernah padam.

# dari berbagai sumber


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar