🔲 UPDATE

Membaca Mens Rea: Komedi dan Kritik Sosial

Ruang publik (public sphere) sejatinya memang diperuntukkan bagi percakapan mengenai perkara dan kepentingan masyarakat. 

Sejak awal, fungsi ruang publik memang untuk membahas hal-hal yang bersifat kepublikan. Di sana, tidak ada yang namanya tirai pembatas antara satu urusan dengan urusan yang lain, ketika itu berkaitan dengan masalah sosial.

Kaitannya dengan itu, acara stand-up comedy sebagai bagian dari pertunjukan di ranah (ruang) publik, harus dilihat dalam konteks yang sama: sama-sama menjalankan fungsi sebagai ruang diskursif sosial.

Namun, belakangan ini, acara yang sejauh ini tidak banyak mengundang refleksi maupun pertanyaan bernada curiga, mulai dipertanyakan sebagian pihak.

Terlebih, pertunjukan komedi yang dinakhodai langsung oleh seorang comedian ternama Tanah Air, Pandji Pragiwaksono lewat program acara "Mens Rea" dinilai mengusik beberap pihak.

Siapapun tahu ketika menyaksikan acara tersebut dengan seksama. Di sana, tidak hanya tawa yang terdengar, tapi juga serangkaian kritik yang dibungkus dengan narasi yang sarat makna dan politik.

Iya, sebagaimana publik mengenalnya sebagai seorang yang cukup kritis, Pandji selama ini memang terkenal sangat satire dan penuh kekritisan dalam mempersoalkan beragam permasalahan publik.

Tak jarang, pertunjukan komedinya disertai dengan kritik-kritik halus, namun tajam menghujam kepada mereka yang menjadi target utama.

Lantas, bagaimana menyikapi esensi dari pertunjukan tersebut? 

Esensi Komedi

Tidak ada tafsir tunggal mengenai apa yang menjadi esensi dari stand-up comedy itu sendiri. Namun, masyarakat tahu bahwa salah satu tujuan komedi adalah hiburan.

Komedi adalah bentuk seni pertunjukan monolog, di mana seorang comedian atau para komedian berdiri sendiri di atas panggung sembari menghadap audiensnya.

Komedian biasanya menyampaikan humor berdasarkan pengalaman pribadi, observasi, serta refleksi atas realitas sosial. 

Namun, ada banyak ragam penampilan komedi. Khusus untuk stand-up comedy, biasanya ia bertumpu pada kekuatan narasi, logika argumentatif, dan kecerdasan retoris. 

Tawa merupakan hal paling penting dalam seni pertunjukan ini. Karena ia merupakan sinyal keberhasilan seorang komedian di atas panggung.

Seperti ketenangan yang tercipta dari forum-forum ilmiah saat seorang professor atau peneliti sedang memaparkan hasil penelitiannya.

Begitulah dalam dunia komedi, apa yang dihasilkan bukan sekadar reaksi spontan, melainkan buah dari pengenalan penonton terhadap realitas yang sedang dikritik.

Meskipun ia semula dimaksudkan sebagai panggung hiburan, siapa sangka kalau stand-up comedy juga ternyata memiliki fungsi sosial yang signifikan sebagai medium kritik. 

Komedi dalam banyak kasus dipakai sebagai ajang untuk menyoroti ketimpangan sosial, kemunafikan moral, penyalahgunaan kekuasaan, hingga absurditas birokrasi. 

Melalui humor yang dihasilkan, kritik yang tajam tak jarang disampaikan tanpa harus tampil dalam wajah yang agresif. 

Di sinilah fungsi komedi dalam memainkan peran paradoksal: ringan dalam bentuk, tetapi berat dalam makna.

Membedah 'Mens Rea' Pandji

Jika di awal telah disinggung mengenai salah satu fungsi komedi adalah kritik sosial, maka pertunjukan Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono harus dilihat dalam makna yang serupa.

Mens Rea memposisikan dirinya sebagai komedi reflektif dengan meminjam istilah hukum pidana (mens rea) atau niat batin sebagai kerangka kritik. 

Dalam poin ini, Pandji sebagai seorang comedian Indonesia yang dikenal vokal dan kritis tidak hanya sedang memberikan hiburan kepada penonton, melainkan dibalut dengan kritik-kritikan tajam yang membuat target kelabakan.

Mens Rea adalah bukan sebatas panggung hiburan yang mencipta tawa, tapi juga medium yang bertujuan mengajak penonton berpikir kritis, skeptis, dan konfrontatif.

Salah satu kontroversi yang coba disorot publik adalah materi tentang kritik terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. 

Yang dipersoalkan beberapa pihak, bukan karena kritik publik yang dilepaskan Pandji, melainkan serangan ke ranah privasi.

Mereka tidak keberatan jika Pandji mengritik apa yang menjadi ranah kritik publik (kinerja, jabatan, performasi, capaian, program, kebijakan, dll.). 

Namun, yang dipersoalkan adalah mengapa harus ranah privasi yang "ditelanjangi". 

Bahkan dalam alam demokrasi yang memberikan ruang kebebasan yang longgar bagi siapapun untuk berbicara dan menyampaikan kritikan, ruang privasi tetap menjadi hal yang tidak bisa dimasuki atau dikorek seseorang.

Dalam perspektif etika publik, memang seorang pejabat negara tidak bisa lepas dari kritik sosial.

Justru perlu dipertanyakan ketika pejabat alergi terhadap kritikan. Namun, terkadang ada orang-orang yang memanfaatkan saluran kebebasan demi menyerang ruang privasi seseorang.

Dalam konteks ruang privasi inilah sebetulnya alasan utama mengapa ada sebagian pihak yang keberatan terhadap materi komedi Pandji itu.

Mereka berharap Pandji tetap menjaga etika publik saat berbicara di ruang publik. Karena, betapapun demokrasi memberikan ruang untuk ekspresi sosial, tetap ada batasan-batasan normatif, moral, dan etis yang harus dijaga.

Dari 'Mens Rea' Pandji, kita belajar bahwa kritik itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana menyampaikan kritikan dalam koridor morma dan etika publik itu sendiri.(yfi) 


Oleh: Yakub F. Ismail

Penulis adalah Direktur Eksekutif INISIATOR. 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar