Kunjungi juga channel youtube kami di : www.youtube.com/netizenword - Berbagi keindahan alam indonesia - Jangan lupa untuk : Like, Subscribe, Koment dan Share Video, agar berkembang Channelnya, bisa memberi informasi baru dan bermanfaat untuk kita semua, tentang keindahan alam Indonesia --------- Kunjungi juga channel youtube kami di : www.youtube.com/netizenword - Berbagi keindahan alam indonesia - Jangan lupa untuk : Like, Subscribe, Koment dan Share Video, agar berkembang Channelnya, bisa memberi informasi baru dan bermanfaat untuk kita semua, tentang keindahan alam Indonesia --------- Kunjungi juga channel youtube kami di : www.youtube.com/netizenword - Berbagi keindahan alam indonesia - Jangan lupa untuk : Like, Subscribe, Koment dan Share Video, agar berkembang Channelnya, bisa memberi informasi baru dan bermanfaat untuk kita semua, tentang keindahan alam Indonesia

Asal - Usul Gajah Mada Menurut Beberapa Sumber Sastra Kuno


Siapa yang tidak tahu cerita tentang kebesaran namanya, Mahapatih yang terkenal dengan sumpah PALAPA nya, yaa... Mahapatih Gajah Mada. Namun bagaimana tentang asal usulnya.... ?

Gajah Mada bisa jadi berasal dari Lamongan, Mojolangu, Bali, Bima, Lampung, Batak, atau bahkan Kalimantan sekalipun.

Tergantung kepada siapa Anda bertanya. Sebagai tokoh besar yang ketenarannya sering jauh mengungguli raja-raja Majapahit junjungannya, nama besar dan kualitas kepemimpinannya masih laku hingga kini, masih dijadikan acuan tauladan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Jadi jangan heran bila banyak kalangan saling berebut klaim.

Masyarakat merasa bangga memiliki identitas sebagai pewaris budaya yang hebat. Potensi historiografi masa lalu yang demikian ini memang diperlukan untuk memperteguh eksistensi identitas mereka.

Berikut ini 4 sumber tulis naskah sastra yang bisa mendukung interpretasi tentang asal-usul Gajah Mada:

NASKAH USANA JAWA

Menurut naskah ini, Gajah Mada dilahirkan di Pulau Bali.
Dikisahkan bahwa Gajah Mada lahir dengan cara memancar dari buah kelapa sebagai penjelmaan dari Sang Hyang Narayana (Visnu) sehingga Gajah Mada dipercaya lahir tanpa ayah dan ibu, namun ia lahir Karena kehendak dewa-dewi (Yamin 1977:13).

Naskah tradisional nusantara sering menegaskan legitimasi tentang kelebihan pada diri seseorang melalui keyakinan, sehingga tokoh yang dimaksud memang pantas dijunjung tinggi dan dihormati.

Sang tokoh biasanya digambarkan sebagai anak seorang dewa atau bahkan penjelmaan dewa sendiri yang diturunkan ke dunia secara tidak lazim. Keajaiban demi keajaiban adi kodrati selalu mengiringi sejak hari kelahiran, masa kanak-kanak, dewasa, bahkan hingga hari kematiannya.

Penggambaran seperti ini umum berlaku pada sistim kepercayaan masyarakat Hindu/Buddha pada masa itu sehingga tafsir atau rasionalisasinya diperlukan agar isi naskah dapat dijadikan rujukan.

BABAD GAJAH MADA

Merupakan karya sastra Bali di masa selanjutnya. Diceritakan bahwa ada seorang pendeta muda bernama Mpu Sura Dharma Yogi yang memiliki istri bernama Patni Nari Ratih, istri yang diberikan oleh gurunya Mpu Raga Gunting atau yang dijuluki Mpu Sura Dharma Wiyasa.

Mpu Sura Darma Yogi membuat huma di sebelah selatan Lembah Tulis sedangkan Patni Nari Ratih tetap tinggal di pertamanan, hanya sesekali ia menengok sang suami di huma yang baru dibuat.

Dewa Brahma jatuh cinta kepada Patni Nari Ratih karena parasnya yang cantik. Hingga suatu ketika Nari Ratih diperkosa oleh Dewa Brahma di gubuk yang sepi.

Peristiwa tersebut Nari Ratih adukan kepada sang suami. Sehingga akhirnya mereka pergi mengembara selama berbulan-bulan lamanya. Ketika sang bayi yang ada dalam kadungan sudah waktunya untuk lahir, mereka tiba di desa Mada yang terletak di kaki Gunung Semeru.

Lahirlah sang bayi laki-laki dengan diiringi peristiwa alam yang menandakan bahwa sang bayi kelak akan menjadi tokoh penting.

Bayi laki-lai tersebut diasuh oleh kepala Desa Mada, sedangkan kedua orangtuanya pergi bertapa di puncak Gunung Plambang untuk memohon keselamatan dan kejayaan bagi si bayi. Dewata mengabulkan permohonan tersebut dengan mengatakan bahwa kelak si bayi akan menjadi orang yang dikenal di seluruh nusantara.

Bertahun-tahun berlalu, Mahapatih Majapahit datang ke desa Mada dan mengajak anak kepala desa bernama Mada yang sekarang beranjak remaja untuk ikut ke Majapahit dan mengabdi kepada raja.

Mahapatih majapahit kemudian menikahkan Mada dengan putrinya yang bernama Ken Bebed, lalu membantu Mada untuk menggantikan kedudukannya sebagai Mahapatih Amangkubumi Majapahit. Berkat Mahapatih Amangkubumi Mada, Majapahit berhasil mengembangkan kekuasaannya hingga banyak raja dari luar Pulau Jawa yang tunduk kepada Raja Majapahit (Muljana 1983:175).

BABAD ARUNG BONDAN

Kitab Jawa Pertengahan Babad Arung Bondhan menawarkan penjelasan berbeda mengenai asal-usul Gajah Mada.

Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa Gajah Mada merupakan anak dari Patih Lugender (dikenal dengan nama Logender dalam cerita Damarwulan dan Menakjingga). Dalam cerita tersebut dinyatakan bahwa Logender menjadi Patih Ratu Majapahit bernama Ratu Kenya (Kencana wungu).

Terjemahan kitab adalah sebagai berikut:
“Telah lama sang raja (memerintah) kedua orangtuanya telah meninggal
Patih Lugender dikemudian hari dan Patih Udara yang menggantikan kedudukannya Patih Lugender setelah mangkat putranya yang menggantikan Gajah Mada namanya disayangi oleh raja pekerjaannya selalu cekatan cukup lama tidak menikah dengan manusia biasa istrinya makhluk halus oleh karena itu tidak menikahi manusia".

J.L.A. Brandes pernah mengatakan bahwa kisah Damarwulan dan Menakjingga terjadi dalam masa pemerintahan Ratu Suhita di tahta Majapahit. Menakjingga yang dimaksud dalam kisah tersebut setara dengan Bhre Wirabhumi, penguasa kedaton timur yang berperang melawan Majapahit.

Sehingga jika tafsiran ini diikuti, maka Gajah Mada anak dari Patih Logender baru ada setelah Majapahit melewati masa kejayaannya. Sedangkan dalam berbagai prasasti dan Kakawin Nagarakrtagama sebagai bukti yang otentik disebutkan bahwa Gajah Mada berperan dalam masa awal dan masa kejayaan Majapahit dalam periode kekuasaan Hayam Wuruk.

Hal yang paling menarik dalam kitab Babad Arung Bondan dan dapat dijadikan interpretasi lebih lanjut adalah pernyataan bahwa Gajah Mada merupakan anak dari seorang Mahapatih.

Adapun nama patih yang menjadi ayah Gajah Mada masih belum akurat, sebab dalam kisah-kisah tradisional nama tokoh sering berganti karena diceritakan secara berulang-ulang dalam kurun waktu yang berbeda.

PARARATON

Krtarajasa Jayawardhana, atau dalam Pararaton dikenal dengan Raden Wijaya disebutkan memiliki beberapa pengikut yang setia. Merekalah yang mengiringi Raden Wijaya dalam pengungsian dan kemudian membuka hutan Trik sebagai cikal bakal Majapahit. Pengikut-pengikut tersebut diantaranya adalah Lembusora, Nambi, Ranggalawe, Gajah Pagon, Pedang Dangdi, dan lainnya.

Dikisahkan bahwa salah satu pengiring Raden Wijaya bernama Gajah Pagon, terluka karena terkena tombak di pahanya ketika berperang melawan pengikut Jayakatwang dari Kadiri. Namun walaupun dalam kondisi terluka, Gajah Pagon tetap mampu berkelahi melawan orang-orang dari Kadiri yang mengejar-ngejar rombongan Raden Wijaya. Setelah tentara Kadiri dapat dihalau, rombongan Raden Wijaya memasuki hutan di daerah Talaga Pager.

Setelah itu mereka memutuskan untuk menuju ke Desa Pandakan dan disambut oleh kepala desa bernama Macan Kuping. Di desa ini, Raden Wijaya disuguhi kelapa muda yang setelah dibuka berisi nasi putih. Kemudian perjalanan berlanjut menuju Pulau Madura dan meminta bantuan kepada Arya Wiraraja. Namun, karena luka yang diterimanya, Gajah Pagon harus ditinggalkan di Desa Pandakan (Hardjowardojo 1956:39-40).

Mengenai tokoh Gajah Pagon Kitab Pararaton menyatakan:
"Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkata Raden Wijaya: ‘Penghulu Desa Pandakan saya titip seorang teman, Gajah Pagon tak dapat berjalan, agar ia tinggal di sini’.
Berkatalah orang Pandakan: ‘Hal itu akan membuat buruk taunku, juka Gajah Pagon ditemukan di sini, sebaiknya jangan ada pengikut tuanku yang diam di Pandakan.
Seyogyanya ia berdiam di tengah kebun, di tempat orang menyabit rumput ilalang, di tengah-tengahnya dibuat sebuah ruangan terbuka dan dibuatkan gubuk, sepi taka da orang yang tahu, orang-orang Pandakan membawakan makanannya setiap hari’.
Gajah Pagon lalu ditinggalkan di situ…." (Hardjowardojo 1965:40).

Gajah Pagon tidak diceritakan lebih lanjut oleh Kitab Pararaton, namun dapat ditafsirkan bahwa keadaan Gajah Pagon berangsur-angsur membaik dan sembuh dari lukanya. Kemungkinan lain yang terjadi adalah ia dinikahkan dengan anak perempuan dari Macan Kuping.

Setelah kepala desa Desa Pandakan meninggal dunia, Gajah Pagon menggantikan tugasnya sebagai kepala desa. Selain itu, Majapahit dapat didirikan dengan menunjuk Raden Wijaya sebagai raja. Saat itulah para pengikut setia Raden Wijaya masing-masing diberikan kedudukannya, walaupun dalam berbagai sumber menyatakan bahwa ada yang tidak puas dengan kedudukan yang diberikan. Namun, Gajah Pagon tetap menjadi kepala desa Desa Pandakan.

Tafsiran selanjutnya yang terjadi adalah Gajah Pagon memiliki putra dari perkawinannya dengan anak Macan Kuping. Anak lelaki yang tumbuh gagah seperti ayahnya yang diberi nama Gajah Mada.

Gajah Mada dilahirkan dan dibesarkan di Desa Pandakan. Kemudian, ia mendapat pendidikan kewiraan oleh ayahnya. Nama desa Pandakan sendiri mungkin berlokasi di wilayah Pandakan sekarang, salah satu kecamatan di utara Malang.

Apabila hal ini benar adanya, maka dapat disimpulkan bahwa Gajah Mada lahir di Jawa Timur, di dataran tinggi Malang, sebagai daerah awal mengalirnya Sungai Brantas.

Diawal berdirinya Majapahit, orang yang cukup disegani dan menggunakan nama "Gajah" hanya Gajah Pagon. Jika sang ayah, Gajah Pagon dikenal pada masa pemerintahan Raden Wijaya, maka Gajah Mada mulai dikenal pada masa pemerintahan Raja Jayanegara. (*)




___________
Sumber: Gajah Mada, Biografi Politik- Agus Aris Munandar. Gambar sampul karya Pramono Estu


Name

Aceh,1,Artikel,62,Baksos,19,Bali,1,Balon Laka - Lantas,3,Balon Lebaran,2,Balon Udara,4,Bangkalan,7,Banyuwangi,7,Bendungan Bendo,1,Berita,262,Bhayangkari,10,Binrohtal,1,Blitar,3,BLT DD,1,Bojonegoro,4,Bondowoso,1,BPD,1,Budaya,2,Burung Langka,1,Cegah Covid-19,132,Cerita Bermakna,21,Cirebon,2,CPNS,1,Cuaca,14,Daftar Raja - Raja Majapahit,1,Dana Desa 2020,3,Dana Desa 2021,1,Daya Spiritual,5,Demak,1,Desa Bancar,1,Desa Gondowido,1,Desa Membangun,1,Dewan,33,DPR RI,1,DPRD,1,Dunia Spiritual,6,Ekonomi,31,Fenomena Alam,7,Giat,309,Gresik,25,H. Ipong Muchlissoni,1,Hari Santri,1,Hj. Sri Wahyuni,2,Hukum,1,Info kesehatan,23,Iptek,8,Jatim,79,Javanese Spiritual,12,Jejak Spiritual,11,Jember,8,Kabar-kabari,3,Kabupaten ODF,1,Kampung Tangguh Semeru,4,Kapolri,16,Kasus,78,Kebakaran,1,Kebangsaan,1,Kediri,2,Keris,9,Kesehatan,4,Kodim 0802/Ponorogo,8,KOTEKA,1,KPU,1,Kuliner,8,Kunker,1,Laka - Lantas,15,Lamongan,4,Lasmini,1,Lumajang,1,Madiun,49,Magetan,6,Malang,13,Mitos - Mistik,12,Mobil Covid Hunter,1,Mojokerto,12,Narkoba,14,Nganjuk,2,NTT,2,Olah raga,8,Operasi Patuh,1,Operasi Zebra,6,Ops Yustisi,14,Orang Meninggal,11,Outomotif,1,Pacitan,5,Pamekasan,2,Papua,2,Partai NasDem,1,Pasuruan,5,Pekanbaru,5,Pembangunan,4,Pendidikan,11,Penemuan,5,Peristiwa,73,Pertanian,6,Pesona Indonesiaku,30,Photo News,1,Pilkada,15,Pilkades,4,PKS Ponorogo,1,Polda Jatim,52,Polres,168,Polres Batu,8,Polres Ponorogo,109,Polres Sukorejo,1,Polresta,1,Polri,378,Polsek Balong,1,Polsek Bungkal,1,Polsek Jambon,1,Polsek Mlarak,2,Polsek Ngrayun,3,Polsek Ponorogo,1,Polsek Pulung,2,Polsek Sawoo,1,Polsek Siman,8,Polsek Slahung,3,Polsek Sooko,6,Polsek Sukorejo,11,Ponorogo,293,Presiden Joko Widodo,1,Probolinggo,4,Program PTSL,1,PSHT Pusat Madiun,1,Publik,23,Puncak Jaya,107,Rekor MURI,1,Religi,13,Reyog,1,Riau,3,S.Sos,1,Sampang,5,Satlantas,5,Satpol PP,3,Sejarah,142,Sidoarjo,1,Situbondo,2,Sugiri Sancoko,1,Sumenep,4,Surabaya,1,Tanaman Bermanfaat,30,Tips Bermanfaat,7,TNI,87,Tokoh,43,TP PKK,13,Tradisi,8,Trenggalek,2,Tulungagung,4,Umum,10,Vaksinasi,46,Virus Corona,20,Waduk Bendo,1,Wayang,8,Wisata Daerah,53,Wisata Religi,18,
ltr
item
Netizen Word: Asal - Usul Gajah Mada Menurut Beberapa Sumber Sastra Kuno
Asal - Usul Gajah Mada Menurut Beberapa Sumber Sastra Kuno
https://1.bp.blogspot.com/-tH9PTB4piGs/Xwq0HZJbMvI/AAAAAAAAGy0/ITUlKS-hVHYZG9RXOxhjdg_WGOBphEPvACLcBGAsYHQ/s320/IMG-20200712-WA0008%257E2.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-tH9PTB4piGs/Xwq0HZJbMvI/AAAAAAAAGy0/ITUlKS-hVHYZG9RXOxhjdg_WGOBphEPvACLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20200712-WA0008%257E2.jpg
Netizen Word
http://www.netizenword.com/2020/07/asal-usul-gajah-mada-menurut-beberapa.html
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/2020/07/asal-usul-gajah-mada-menurut-beberapa.html
true
1914908294925827969
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy