Portal News - NETIZENWORD.com. Berbagi informasi, tentang : sejarah, budaya, spiritual, wisata daerah, peristiwa dan informasi publik, berkontribusi sebagai Media Warga, untuk memberikan informasi dari berbagai peristiwa, kegiatan, baik daerah maupun nasional


Kisah Ki Ageng Cempaluk dan Tumenggung Bahurekso

Tumenggung Bahurekso yang pada masa mudanya bernama Joko Bahu adalah putra dari seorang mantan punggawa Mataram yang bernama Ki Ageng Cempaluk.

Pada masa lalu, Ki Ageng Cempaluk memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Pangeran Benawa (Raja Pajang terakhir) dan Sultan Mataram pertama yaitu Panembahan Senopati.

Menurut sejarah, ketika Pangeran Benawa lengser dari tahta Pajang dan menyerahkannya kepada Panembahan Senopati di Kotagede, beliau memutuskan untuk berkelana bersama 4 orang sahabatnya karibnya termasuk Ki Ageng Cempaluk.

Dalam perjalanan yang dilakukan Pangeran Benawa, sampailah di suatu daerah yang bernama Alas Kukulan. Di daerah tersebutlah Pangeran Benawa memutuskan untuk membuka wilayah yang nantinya menjadi cikal bakal Kabupaten Kendal.

Singkat cerita atas perintah Panembahan Senopati Raja Mataram, Ki Bahu (Ki Ageng Cempaluk) mendapat tugas menjadi Demang dengan gelar “Kyai Ngabehi Bahureksa“untuk mengelola wilayah kendal yang nanti hasilnya diserahkan untuk Pangeran Benawa.
Karena dharma baktinya yang besar kepada Mataram, Ki Ageng Cempaluk kemudian diberi tanah perdikan di sebuah desa kecil bernama Kesesi yang berarti pengasingan di dekat kali Comal (sekarang masuk Kabupaten Pekalongan).

Konon Ki Ageng Cempaluk juga telah berjasa menangkap Baron Skeber (bangsawan Spanyol yang terdampar di Pati) yang berusaha menculik permaisuri Panembahan Senopati di daerah Rogiselo Pekalongan dg kecepatan terbangnya yang seperti angin sehingga bergelar Sunan Penatas Angin.

Setelah peristiwa itu Sunan Penatas Angin oleh Panembahan Senopati di tugaskan untuk berdakwah di wilayah sekitar Pekalongan membantu Kyai Ageng Pekalongan (sayid Husain) dan Kyai Ageng Rogoselo (sayid Muhammad Almaghroby) serta para tokoh lain di zaman Itu.

Saat putranya menginjak dewasa, Ki Ageng Cempaluk kemudian memerintahkan putranya Joko Bahu untuk mengabdikan diri pada keraton Mataram yang saat itu diperintah oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Melihat Joko Bahu sebagai putra Ki Ageng Cempaluk yang memang terkenal sakti dan namanya cukup dikenal di keraton mataram, maka tanpa banyak pertimbangan Sultan Agung pun menerima bakti dari Joko Bahu.

Untuk menunjukan kesetiaannya mengabdi kepada Mataram, Joko Bahu pun harus melewati beberapa tahapan yang menjadi sarat mutlak bagi setiap prajurit yang hendak mengabdi kepada keraton. Pada tahap pertama, Sultan Agung memberi tugas kepada Joko Bahu untuk membendung kali sambong yang saat ini masuk wilayah Batang.

Pada zaman dahulu, kali Sambong ini terkenal sangat angker. Sudah beberapa kali usaha pembendungan dilakukan namun selalu saja gagal. Padahal akses Kali Sambong ini cukup penting untuk mengairi sawah-sawah rakyat di sepanjang sungai yang kekeringan setiap musim kemarau.
Dengan dibuat bendungan, harapannya hasil panen akan meningkat sehingga kebijakan raja mataram untuk meningkatkan kemakmuran negrinya di bidang pertanian dapat tercapai.
Mendapat tugas dari Sultan Agung, Joko Bahu pun segera berangkat dengan membawa beberapa prajurit untuk membantunya melaksanakan tugas yang tidak ringan itu.
Setibanya di Kali Sambong, usaha pembendungan pun dilakukan setahap demi setahap. Namun di tengah-tengah berlangsungnya proyek pembendungan Kali Sambong ini, muncul keanehan-keaneh
an yang terjadi.

Ketika pagi hari saat para prajurit hendak melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai itu, mereka selalu mendapati tanggul yang mereka kerjakan kemarin telah rontok dan bubar kembali. Kejadian itu terus berulang-ulang sampai tiga hari berturut-turut.

Melihat keganjilan seperti itu, para prajurit pun dibuat bingung bukan kepalang. Joko bahu pun kemudian melakukan tapa brata dan bertemu dengan siluman welut putih yang menunggui kali Sambong tersebut.
Terjadi tawar-menawar kepentingan antara Joko Bahu dan Siluman welut putih penunggu Kali sambong, namun hasilnya buntu alias tidak menemui kata sepakat. Jalan terakhir akhirnya terjadilah perkelahian sengit antara kedua belah yang pada akhirnya dimenangkan oleh Joko Bahu.
Dengan kemenangan ini, usaha pembendungan Kali Sambong pun dilanjutkan tanpa ada lagi halangan. Pada masa selanjutnya, daerah inilah yang kelak menjadi cikal bakal dari Kadipaten Batang.

Setelah berhasil melaksanakan tugas pertamanya, Joko Bahu kemudian mendapat tugas kembali dari Sultan Agung untuk membuka lahan baru di tepi pantai utara jawa yakni wilayah alas Gambiran.

Pada masa itu, daerah ini terkenal sangat angker sehingga dihindari oleh rombongan pedagang yang melakukan perjalanan jauh. Saat melintasi wilayah ini, mereka biasanya lebih memilih lewat jalur sebelah selatan yang lebih aman.

Saking angkernya alas gambiran, konon jika ada orang yang masuk ke dalamnya, pasti dia hanya akan berputar-putar di dalamnya dan tidak akan pernah bisa kembali keluar lagi dengan selamat.

Saat Joko Bahu dan para prajuritnya menjalankan tugas untuk membabat hutan gambiran, mereka pun mengalami kejadian serupa. Begitu masuk ke dalam hutan, mereka pun hanya berputar-putar tidak tentu dan tidak bisa bisa menemukan jalan keluar.

Melihat hal itu, Joko Bahu pun kemudian melakukan tapa brata yaitu tapa ngidang dengan meniru sifat kidang untuk menghadapi penunggu alas gambiran ini.
Namun ternyata Joko Bahu tidak mampu mengalahkan raja siluman penunggu alas gambiran yaitu Dewi Lanjar yang memang diutus oleh Ratu Kidul untuk menggagalkan usaha Joko Bahu tersebut.

Merasa butuh bantuan, Joko Bahu pun kemudian pulang menuju padepokan ayahnya, Ki Ageng Cempaluk untuk meminta masukan atas hal tersebut.
Atas saran dari ayahnya, Joko Bahu kemudian melakukan "tapa ngalong", yaitu tapa brata dengan menirukan posisi kalong, yakni tapa dengan kaki menggantung di pohon tiap siang selama 40 hari.
Wilayah tempat dimana Joko Bahu melakukan tapa ngalong itu kini disebut "Pekalongan" yang artinya tempat Joko Bahu melakukan tapa kalong.

Singkat cerita, Joko Bahu pun akhirnya berhasil mengalahkan Dewi Lanjar dan melanjutkan tugasnya membuka lahan sampai selesai. Setelah kalah dari Joko Bahu, konon Dewi lanjar meminta izin untuk tinggal di Pantai Utara, tepatnya di sekitar Pantai Slamaran, Pekalongan.
Adapun kisah Dewi Lanjar pada mulanya adalah seorang putri cantik yang bernama Dewi Rara Kuning. Ia telah menjadi janda di usia yang sangat muda karena suaminya meninggal beberapa waktu setelah pernikahan mereka.

Itulah sebabnya Dewi Rara Kuning kemudian terkenal dengan sebutan Dewi Lanjar. Karena hal tersebut, Dewi Lanjar memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya agar tidak terus-menerus dirudung duka.

Setibanya di sungai Opak, ia bertemu Raja Mataram Panembahan Senopati bersama Mahapatih Singaranu yang sedang bertapa mengapung di atas air sungai. Dewi Lanjar mengutarakan isi hatinya dan berkata tidak akan menikah lagi.

Panembahan Senopati dan Mahapatih Singoranu merasa kasihan kemudian menasehatinya agar bertapa di Pantai Selatan menghadap Ratu Kidul. Selanjutnya mereka berpisah.

Panembahan Senopati beserta patihnya melanjutkan bertapa menyusuri sungai Opak sedangkan Dewi Lanjar menuju Pantai Selatan. Ia bertapa dengan tekun kemudian moksa dan bertemu dengan Ratu Kidul.
Dalam pertemuan itu, Dewi Lanjar memohon menjadi anak buah Kanjeng Ratu Kidul, Ratu Kidul tidak keberatan. Suatu hari, Dewi Lanjar bersama pasukan jin diperintahkan untuk mengganggu dan mencegah Raden Bahu yang sedang membuka hutan Gambiren (kini berada di sekitar jembatan anim Pekalongan dan desa Sorogenen).

Namun, Raden Bahu tidak terpengaruh semua godaan Dewi Lanjar dan pasukan jinnya. Karena tidak berhasil menunaikan tugas, Dewi Lanjar memutuskan untuk tidak kembali ke Pantai Selatan, tetapi memohon izin kepada Raden Bahu untuk dapat bertempat tinggal di Pekalongan.
Hal tersebut disetujui baik oleh Raden Bahu maupun oleh Ratu Kidul. Dewi Lanjar diperkenankan tinggal dipantai utara Jawa Tengah terutama di Pekalongan.

Mendengar keberhasilan Joko Bahu, Sultan Agung pun gembira dengan pencapaian tersebut. Semua tugasnya berhasil dijalankannya dengan baik. Bahkan saat ia ditugasi untuk memimpin pasukan Mataram ketika menyerang raja Uling di daerah Sigawok, tugas itu pun berhasil dijalankan dengan baik oleh Jaka Bahu.
Atas keberhasilan dan jasa-jasanya ini, Sultan agung kemudian menganugrahkan gelar adipati kepada Joko Bahu dengan gelar Tumenggung Bahurekso dan sekaligus menetapkan wilayah Kendal sebagai daerah kekuasaannya.

Sejak saat itulah, Tumenggung Bahurekso pun mulai menjabat sebagai Adipati (Bupati) kendal yang pertama yang dilantik pada tanggal 12 Robiul Awal 1412 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 28 Juli 1605.

Suatu ketika, Tumenggung Bahurekso mendapat tugas kembali dari Sultan Agung. Namun kali ini tugasnya berbeda dari tugas-tugas sebelumnya. Kali ini, Sultan Agung menugaskan Ki Bahurekso untuk melamarkan seorang putri cantik dari kali salak bernama Nyi Rantang sari untuk Sultan Agung.

Untung tak dapat diraih dan malang tak dapat di tolak. Begitu keduanya bertemu, Nyi rantang sari justru kemudian jatuh cinta kepada Bahurekso dan tidak mau dibawa untuk dipersembahkan kepada Sultan Mataram.

Ki Bahurekso yang juga jatuh cinta kepada Nyi Rantang Sari pun kemudian mengatur siasat untuk mengatasi hal ini. Muncullah inisiatif Bahurekso untuk mengganti Nyi Rantang Sari yang hendak dibawa kepada Sultan Mataram dengan seorang putri yang tak kalah cantiknya yaitu Endang Wuranti Kalibeluk, seorang putri anak penjual srabi di desa Kalibeluk Batang.
Dari perkawinannya dengan Nyi Ranrangsari Ki Bahurekso kelak mempunyai seorang putra yang bernama Sulamjono dan dari istri yang lain berputrakan Banteng Bahu yang keduanya turut serta dalam penyerangan ke Baravua kelak.

Pada mulanya, siasat Ki Bahurekso ini berhasil membuat Sultan Mataram tidak mengetahuinya. Namun pada akhirnya semuanya terbongkar. Saat Endang Kalibeluk yang menggantikan Nyi Rantang Sari ini disandingkan dengan Sultan Agung, ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sultan Agung hingga akhirnya dia mengakui kalau dirinya bukan Nyi Rantang Sari yang dimaksud oleh Sultan Agung.

Mendengar kenyataan ini, Sultan Agung pun marah besar. Dia merasa telah ditipu oleh bawahannya, Bahurekso. Sultan Agung pun pada awalnya berniat memberi hukuman mati kepada Bahurekso, namun keputusan ini dapat di cegah oleh patih Singaranu.
Sang Patih menyarankan agar Sultan mengganti hukuman tersebut dengan memberi tugas yang amat berat kepada Bahurekso agar ia terbunuh dengan sendirinya.

Pada akhirnya, Sultan agung pun menugaskan Bahurekso sebagai panglima perang pasukan Koloduto untuk menyerang Belanda di Batavia/ Jayakarta (sekarang Jakarta).
Tumenggung Bahuhrekso mempersiapkan tentaranya di sebuah desa yang bernama Ketandan namun nama desa itu sekarang lebih di kenal Wiradesa,“wira” artinya prajurit, “desa” itu kampung jadi wira-desa adalah perkampungan prajurit dari situlah Tumenggung Bahurekso bertolak ke Jayakarta.

Maka berangkatlah Tumenggung Bahurekso menyiapkan armada perang menuju Batavia. Dia memilih melewati jalur laut, atas saran ki Cempaluk sebab jalan darat konon senjata pusaka apapun akan hilang tuah atau kesaktiannya jika melintasi kali Cipamali Brebes.

Saat sampai wilayah Batavia, konon sebelum melakukan penyerangan Tumenggung Bahurekso sempat mengumpulkan pasukannya di sebuah daerah yang sekarang bernama Matraman yang artinya Mataram-an.
Di Batavia Pasukan Koloduto tidak langsung menyerang masuk. Mereka mengirim para agen yang menyamar menjadi pedagang dan seniman. Mereka ditugaskan untuk melihat situasi dan kondisi dalam kota.
Beberapa hari kemudian, para prajurit yang menyamar menjadi pedagang dan seniman tersebut menyerang pasukan Belanda di Batavia secara serempak pada tengah malam. Namun serangan tersebut dapat dipatahkan oleh Belanda karena keterbatasan jumlah dan persenjataan.

Dengan hasil tersebut, Belanda merasa senang dan menjadi lengah. Tidak lama kemudian, pasukan utama Koloduto menyerang dari darat dan laut dari arah selatan dan utara. Pasukan Belanda menjadi panik dan sempat kocar-kacir karena terkejut, namun serangan tersebut kembali gagal karena serangan dari darat dan laut tidak secara bersamaan.

Meskipun demikian, namun pasukan Belanda juga mengalami kerugian yang sangat besar dan banyak pasukannya yang tewas akibat serangan tersebut.
Pasukan Koloduto mundur dan menyusun rencana. Keesokan harinya, pasukan Koloduto yang dipimpin Tumenggung Bahurekso Kembali menyerang pasukan Belanda dengan menggali parit-parit. Untuk menangkis serangan tersebut, Belanda menggunakan budak-budak mereka dengan janji akan diberikan kemerdekaan.

Pada tanggal 21 September 1628 Panglima Perang Tumenggung Bahurekso akhirnya melakukan serangan besar-besaran ke Benteng Pertahanan VOC Belanda di Batavia.
Dua pasukan Tumenggung Bahurekso yaitu Pasukan Panah Api Surogenen dan Pasukan Tombaj Wirabraja melakukan serangan besar-besaran dari 2 arah yang berbeda.

Belanda pun memuntahkan senjata api Meriam secara bertubi-tubi ke arah Tumenggung Bahurekso dan pasukannya. Salah satu serangan senjata Pasukan VOC tersebut mengenai Tumenggung Bahurekso.
Salah Satu Kaki Tumenggung Bahurekso mengalami luka dan patah terkena terkena pecahan peluru akibat serangan Meriam Belanda itu. Karena dalam kondisi terluka dan kaki patah, pasukan diperintahkan untuk mundur. Pasukan Adipati Ukur mundur ke arah hutan Lumbung Parahiyangan Tengah.
Dua anak buah Tumenggung Bahurekso yaitu Tumenggung Mandurorejo dan Tumenggung Suro Agul-agul menyembunyikan Tumenggung Bahurekso di Tempat Persembunyian. Di tempat persembunyian yang dirahasiakan dari kejaran penjajah Belanda itu, Tumenggung Bahurekso mendapat perawatan.

Pasca kegagalan serangan ke Batavia Tumenggung Bahurekso tidak berani pulang ke Mataram dan memilih untuk berkelana. Akhirnya Tumenggung Bahurekso memilih mendirikan kraton kekadipatenan yang letaknya di sebelah selatan Wiradesa tepatnya yang sekarang bernama desa kadipaten (yang artinya di situ pernah akan di jadikan kadipaten).

Namun kabar tersebut terendus oleh Sultan Agung dan akhirnya mataram mengutus seorang pendekar dari China yang bernama Tan Jin Kwen (Djaningrat) yang kemudian diangkat dan di tetapkan sebagai adipati Pekalongan yang pertama setelah berhasil menyingkirkan Tumenggung Bahurekso.

Memang ada beberapa tempat yang diklaim oleh masyarakat sebagai makam dari Tumenggung Bahurekso. Ada yang mengatakan berada di Batang, Kendal, dan yang di Lebaksiu Tegal. Namun yang cukup populer di antara makam-makam tersebut adalah makam beliau yang berada di Lebaksiu, Tegal.

Begitu pula ada beragam versi mengenai sejarah asal usul dan perjalanan hidup hingga kewafatan Tumenggung Bahurekso.
Namun yang jelas dan disepakati kebenarannya beliau adalah Bupati Kendal pertama, yang juga merupakan salah satu panglima perang kesultanan Mataram yang tangguh.(*)





____________
Sumber :

GIAT TNI - POLRI$type=carousel






JEJAK SPIRITUAL$type=complex$count=4

Portal News - NETIZENWORD.com. Berbagi informasi, tentang : sejarah, budaya, spiritual, wisata daerah, peristiwa dan informasi publik, berkontribusi sebagai Media Warga, untuk memberikan informasi dari berbagai peristiwa, kegiatan, baik daerah maupun nasional
Name

Artikel,63,Baksos,18,Balon Laka - Lantas,3,Balon Lebaran,2,Balon Udara,4,Bangkalan,2,Bendungan Bendo,1,Berita,257,Bhayangkari,8,BPD,1,Budaya,2,Cegah Covid-19,130,Cerita Bermakna,20,Cirebon,2,CPNS,1,Cuaca,12,Daftar Raja - Raja Majapahit,1,Dana Desa 2020,3,Dana Desa 2021,1,Daya Spiritual,5,Demak,1,Desa Gondowido,1,Dewan,28,DPRD,1,Dunia Spiritual,6,Ekonomi,29,Fenomena Alam,7,Giat,309,Gresik,24,Hukum,1,Info kesehatan,23,Iptek,8,Jatim,49,Javanese Spiritual,12,Jejak Spiritual,11,Jember,1,Kabar-kabari,3,Kabupaten ODF,1,Kampung Tangguh Semeru,4,Kasus,51,Kebakaran,1,Kebangsaan,1,Keris,9,Kesehatan,3,Kodim 0802/Ponorogo,3,Kuliner,9,Kunker,1,Laka - Lantas,14,Madiun,49,Magetan,4,Mitos - Mistik,12,Mobil Covid Hunter,1,Mojokerto,1,Narkoba,10,Olah raga,4,Operasi Patuh,1,Operasi Zebra,1,Ops Yustisi,3,Orang Meninggal,11,Outomotif,1,Pacitan,2,Pekanbaru,5,Pembangunan,4,Pendidikan,11,Penemuan,5,Peristiwa,64,Pertanian,5,Pesona Indonesiaku,30,Photo News,1,Pilkada,15,PKS Ponorogo,1,Polda Jatim,12,Polres,139,Polres Ponorogo,7,Polres Sukorejo,1,Polri,324,Polsek Bungkal,1,Polsek Mlarak,1,Polsek Pulung,1,Polsek Siman,2,Polsek Slahung,1,Polsek Sooko,2,Polsek Sukorejo,2,Ponorogo,285,Presiden Joko Widodo,1,Program PTSL,1,PSHT Pusat Madiun,1,Publik,23,Puncak Jaya,72,Religi,13,Reyog,1,Riau,3,Satlantas,1,Satpol PP,3,Sejarah,139,Sugiri Sancoko,1,Sumenep,1,Tanaman Bermanfaat,30,Tips Bermanfaat,7,TNI,71,Tokoh,42,TP PKK,13,Tradisi,8,Trenggalek,2,Umum,10,Vaksinasi,8,Virus Corona,20,Waduk Bendo,1,Wayang,8,Wisata Daerah,50,Wisata Religi,17,
ltr
item
Netizen Word: Kisah Ki Ageng Cempaluk dan Tumenggung Bahurekso
Kisah Ki Ageng Cempaluk dan Tumenggung Bahurekso
https://1.bp.blogspot.com/-K43-881yfqI/XosyUv7rvoI/AAAAAAAAFO4/RtmlfIOHi90372x4EVDMhsfOIFKSopkUACLcBGAsYHQ/s200/IMG-20200406-WA0051.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-K43-881yfqI/XosyUv7rvoI/AAAAAAAAFO4/RtmlfIOHi90372x4EVDMhsfOIFKSopkUACLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20200406-WA0051.jpg
Netizen Word
http://www.netizenword.com/2020/04/kisah-ki-ageng-cempaluk-dan-tumenggung.html
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/2020/04/kisah-ki-ageng-cempaluk-dan-tumenggung.html
true
1914908294925827969
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy