Mengintip Keraton Mataram Abad ke-17 dari Catatan Rijklof van Goens
Sekitar setengah abad setelah kedatangan Lodewycksz, seorang diplomat dan pejabat VOC, Rijklof van Goens, melakukan serangkaian perjalanan penting ke jantung kekuasaan Jawa: Kerajaan Mataram. Dalam kurun waktu 1648 hingga 1654, ia tercatat lima kali mengunjungi istana Mataram sebagai utusan resmi.
Catatan perjalanannya yang kemudian dikenal sebagai Javaense Reyse menjadi salah satu sumber Belanda paling lengkap tentang kehidupan keraton pada masa akhir kekuasaan Sultan Agung dan awal pemerintahan Amangkurat I.
Keraton Islam dengan Jiwa Jawa Kuno
Van Goens menyaksikan sebuah peradaban yang telah sepenuhnya memeluk Islam, namun tetap mempertahankan akar budaya Jawa lama. Ia menggambarkan kehidupan keraton yang penuh tata krama dan simbolisme: pertunjukan wayang, alunan gamelan, seni tari, hingga struktur sosial yang sangat kompleks.
Berbeda dengan catatan awal bangsa Eropa yang berfokus pada wilayah pesisir seperti Batavia, van Goens melihat langsung kehidupan di pusat kekuasaan pedalaman. Dari sinilah gambaran autentik tentang budaya elit Jawa mulai terbuka.
Busana dan Wibawa Pria Jawa
Menurut van Goens, pria Jawa khususnya di lingkungan keraton memiliki penampilan yang anggun dan berwibawa. Para bangsawan dan prajurit sering tampil dengan dada terbuka atau hanya mengenakan kain tipis di bagian atas tubuh, terutama karena faktor iklim tropis.
Namun kesederhanaan itu tidak mengurangi kehormatan mereka. Setiap pria selalu menyandang keris di pinggang sebagai simbol status dan martabat. Dalam acara resmi, mereka mengenakan kain batik berkualitas tinggi, sutra, serta perhiasan emas.
Ia juga mencatat kebiasaan pria Jawa dalam merawat diri: rambut ditata rapi, tubuh diberi wewangian, dan sikap selalu dijaga dengan penuh kesadaran akan etika.
Perempuan Keraton dan Disiplin Tinggi
Tentang perempuan istana, van Goens menggambarkan sosok yang anggun dengan pakaian lebih tertutup dibandingkan pria. Busana mereka mencerminkan kesopanan sekaligus keindahan khas Jawa.
Yang paling mengesankan baginya adalah disiplin dan etiket keraton yang sangat ketat. Setiap gerakan—berjalan, duduk, berbicara—diatur dengan aturan yang jelas, terutama saat berada di hadapan raja.
Karakter Orang Jawa Menurut Van Goens
Lebih dari sekadar pengamat visual, van Goens mencoba memahami karakter masyarakat Jawa. Ia menilai mereka sebagai bangsa yang:
• Memiliki rasa bangga yang tinggi
• Pemberani dan setia pada raja
• Namun sensitif terhadap harga diri.
Menurutnya, ketika kehormatan mereka tersinggung, orang Jawa bisa menjadi sulit dikendalikan.
Kemewahan dan Ketegangan Politik
Van Goens juga mencatat kemegahan istana Mataram: keberadaan gajah, kuda Persia, pasukan terlatih, hingga upacara megah yang menunjukkan kekuatan kerajaan.
Namun di balik kemewahan itu, tersimpan ketegangan politik antara Mataram dan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang berpusat di Batavia.
Jawa dalam Masa Transisi
Catatan van Goens menunjukkan bahwa abad ke-17 adalah masa transisi penting bagi Jawa. Pengaruh Islam mulai mengubah gaya hidup, termasuk cara berpakaian yang lebih tertutup di kalangan elite.
Namun, tradisi lama belum sepenuhnya hilang. Di luar lingkungan keraton, pria masih lazim bertelanjang dada bukan sebagai tanda “primitif”, melainkan adaptasi terhadap iklim dan budaya.
Van Goens melihat Jawa sebagai peradaban yang maju dan kompleks sophisticated meski tetap dibingkai oleh sudut pandang kolonial Belanda.
Melalui catatan Rijklof van Goens, kita dapat menyaksikan potret Jawa pada titik persimpangan sejarah: ketika warisan Hindu-Buddha berpadu dengan Islam, dan kekuatan Eropa mulai menancapkan pengaruhnya.(*)
