Pergolakan Tahta Mataram : Pangeran Adipati Anom, Pangeran Alit dan Tumenggung Wiraguna


Selama hidupnya, Sultan Agung mengangkat dua orang Permaisuri, yang dalam istilah Mataram disebut Ratu Wetan dan Ratu Kulon. Ratu Wetan melahirkan Raden Mas Syayidin (Amangkurat I), sementara Ratu Kulon melahirkan Raden Mas Syahwawrat (Pangeran Alit) yang kelak dinobatkan sebagai Putra Mahkota pengganti dirinya.

Meskipun umurnya lebih muda dari kakak tirinya Amangkurat I, Pangeran Alit adalah Putra Mahkota Kesultan Mataram yang berhak atas tahta, namun karena konsiprasi dan kepandaian Ratu Wetan dalam mempengaruhi Sultan Agung yang kala itu sedang sakit keras, Pangeran Alit akhirnya dihilangkan hak-haknya.
Bukan hanya itu saja Pangeran Alit akhirnya terbunuh karena tertikam oleh kerisnya sendiri.

Peristiwa inilah yang kelak membuat Cirebon menaruh dendam terhadap Rezim Amangkurat I, mengingat ibunda dari Pangeran Alit merupakan Putri dari Raja Cirebon.
Ada beberapa anggapan mengenai sebab-sebab Sultan Agung mengangkat Pangeran Alit menjadi putra mahkota, salah satunya adalah dikarenakan kedudukan Ratu Kulon lebih tinggi dari Ratu Wetan, sebab Ratu Wetan adalah anak seorang Bupati, sementara Ratu Kulon merupakan anak seorang Raja Cirebon, bahkan Panembahan Ratu Cirebon merupakan guru dari Sultan Agung sendiri.

Selain itu, pada masa hidupnya sebenarnya Sultan Agung tidak lagi menaruh bangga terhadap Amangkurat I, mengingat anak tertuanya itu pernah berbuat kejahatan, yaitu membawa lari istri Tumenggung Wiraguna, pejabat kesayangan Sultan Agung.

Perbuatan tak bermoral yang dilakukan Raden Mas Sayidin itu membuat murka sang Tumenggung, namun ia sadar bahwa yang melakukan perbuatan bejat tersebut merupakan anak Rajanya, ia sebenarnya tak kuasa melakukan penentangan.

Pada mulanya, Tumenggung Wiraguna seperti merasa berat hati untuk melaporkan kejadian itu kepada Rajanya, ia takut laporannya itu tidak ditanggapi, namun karena diliputi amarah yang membatu, akhirnya sang Tumenggung nekad mewartakan penculikan istrinya itu kepada Sultan Agung.

Mendengar laporan dari Tumenggung kesayangannya, sikap Sultan Agung rupanya diluar dugaan, sang Raja memerintahkan kepada prajuritnya untuk menyeret Mas Syayidin dimuka pengadilan.

Setelah dilakukan pendalaman kasus, rupanya Mas Sayidin mengakui perbuatannya, dan iapun meminta ampunan.
Ampunan Sultan kemudian turun selepas Tumenggung Wiraguna memaafkan perbuatan bejat anak Rajanya, maka mulai setelah itu, Sultan Agung tidak lagi menaruh bangga terhadap putranya itu.

Mas Syayidin seperti merasa dikucilkan oleh ayahnya sendiri. Sikap inilah yang kelak melatar belakangi dendam Amangkurat I terhadap Tumenggung Wiraguna.
Tetapi rupanya penentu calon pewaris takhta tidak semata-mata di tangan Sultan. Ada kekuatan di samping Sultan yang punya pengaruh kuat. Kekuatan itu terletak pada figur permaisuri.
Ibunda Mas Sayidin adalah Ratu Batang. Dia putri Adipati Batang, Tumenggung Upasanta.

Karir Tumenggung Upasanta di Mataram adalah seorang perwira tinggi milter. Dia berpengalaman dalam beberapa operasi penaklukan. Ia termasuk salah satu panglima perang Mataram dalam penyerangan ke Batavia bersama Tumenggung Bahurekso dan Tumenggung Manduraja.
Sebagai putri pejabat militer, karakter Ratu Batang ikut terbentuk. Figurnya dikenal keras dan tegas. Tapi semanak. Biasa bicara ceplas-ceplos.

Pejabat-pejabat Mataram sering kena semprot. Ini membuat banyak petinggi kerajaan merasa keder bertemu Kanjeng Ratu, begitu dia akrab disapa.
Selain putri adipati, Ratu Batang dikenal seorang wanita karir. Dia punya banyak usaha di daerah asalnya sebagai eksportir mebel dari Jepara, rotan, dan pemilik aneka usaha pertanian. Ratu Batang punya wawasan yang luas. Dia biasa bertemu duta-duta negara asing saat mendampingi ayahnya. Ratu Batang hobi mengadakan kunjungan kerja ke berbagai daerah.

Perannya di Mataram semakin kuat saat Sultan Agung mereposisi kedudukan permaisuri. Awalnya kedudukan Ratu Batang adalah permaisuri kedua atau Ratu Wetan. Permaisuri utama ditempati Ratu Kulon dari Cirebon. Namun belakangan terjadi konflik antara raja dengan putri Cirebon. Ratu Kulon dikebonake alias dikeluarkan dari keraton. Posisinya digantikan Ratu Batang.

Dengan kedudukan sebagai Ratu Kulon, peran Ratu Batang semakin kuat. Khususnya ikut menyiapkan putranya, Mas Sayidin menjadi penerus takhta. Persiapan dimulai dengan seleksi pejabat Mataram. Lembaga ditata ulang. Pejabat banyak yang digeser. Tidak sedikit yang dicopot. Kerabat kerajaan yang dinilai menghalangi langsung dipangkas kewenangannya. Ratu Batang betul-betul menjadi sosok berpengaruh.

Setelah semua dianggap beres, Mas Sayidin mulai ditampilkan ke publik pada 1637. Dia dikenalkan sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom Untuk lebih mendekatkan dengan rakyat, Mas Sayidin diminta aktif di berbagai kegiatan.
Dia dipasrahi memimpin berbagai lembaga kerajaan.

Antara lain paguyuban saudagar Mataram. Membidani pembangunan pasar-pasar rakyat dan ikut beragam pendidikan kepemimpinan. Guru yang ditunjuk untuk membimbingnya adalah Tumenggung Mataram, Pangeran Purbaya, agar Mas Sayidin benar-benar siap memimpin.

Usaha Ratu Wetan untuk menjadikan putranya sebagai putra mahkota itu rupanya tidak sia-sia, Pangeran Alit akhinya digeser kedudukannya sebagai Putra Mahkota, Penggeseran kedudukan putra mahkota kemudian mendapatkan persetujuan dari Sultan Agung yang kala itu sudah tidak berdaya di atas pembaringannya.

Dalam catatan H.J De Graff (1986:301), peristiwa pengangkatan Raden Syahidin menjadi Sultan Mataram menggantikan ayahnya didahului oleh peristiwa pergeseran status Putra Mahkota, Ratu Wetan berhasil mempengaruhi Sultan Agung yang kala itu sedang sakit keras untuk memaksa memberi keputusan agar anaknya menggantikan kedudukan Raden Mas Syahawarat sebagai Putra Mahkota, dalam hal ini Sultan Agung yang kala itu sudah tidak berdaya akhirnya menyetujuinya.

Tetapi dibalik pengangkatan itu, rupanya ada upaya dan dukungan VOC Belanda terhadap diangkatnya Mas Sayidin sebagai Pangeran Adipati Anom mereka menyokong secara diam-diam gerakan Ratu Wetan untuk mengangkat putranya, bahkan jauh-jauh hari, dikisahkan orang-orang Belanda telah lama mendekati dan mempengaruhi Ratu Wetan.

Dalam pendekatannya ini orang-orang Belanda sering menghadiahkan barang-barang mahal kepada Ratu Wetan dan keluarganya, Bahkan sejak kecil Mas Sayidin, sering diberikan mainan yang belum pernah dilihatnya oleh orang-orang Belanda (Abimayu, 2016 : 394).

Pendekatan-Pendekatan Belanda dengan memanjakan Ratu Wetan dan anaknya inilah yang kemudian memberikan kesan pada Ratu Wetan dan Mas Sayidin bahwa orang Belanda itu bersahabat dan enak untuk diajak berteman. Hubungan semacam ini terus dipelihara Belanda hingga Mas Sayidin menuju dewasa dan siap diangkat sebagai Sultan.

Keputusan Belanda untuk mendikte agar tahta Mataram selanjutnya jatuh ke tangan Mas Sayidin ini sepertinya bukan tindakan main-main, akan tetapi melalui penelitian yang panjang, Dalam Pantuan dan penilaian orang-orang Belanda, Mas Sayudin sejak kecil sudah tergambar sifat kebringasannya, beringas tanpa pertimbangan.

Hal itu bisa terlihat dari kebiasaannya, manakala ia keluar dari Istana, ia selalu dikawal oleh prajurit istana dan mengadakan perkelahian dengan rakyatnya, sehingga mereka berfikir Sang Pangeran beringas. Sosok semacam inilah yang cocok untuk meruntuhkan kewibawaan Mataram, sebab tidak memiliki sifat seperti ayahnya Sultan Agung yang dikenal keras namun penuh perhitungan.
Selepas kemangkatan Sultan Agung, terjadilah kemudian huru-hara seputar penobatan Raja, para pengikut Pangeran Alit tidak mempercayai wasiat Sultan Agung yang melucuti Pangeran Alit dari tahta, namun perlawanan itu rupanya sudah diantisipasi oleh Ratu Wetan.

Pengangkatan Amangkurat I menjadi Raja Mataram terjadi pada tahun 1649, yaitu tepat setelah Sultan Agung wafat, dalam acara pengangkatannya sebagai Sultan digambarkan sangat mencekam, mengingat Para Abdi Kerajaan di tahan agar tidak melakukan kerusuhan.

Semua gerbang istana di tutup, gudang senjata, dan depot mesiu dijaga ketat. Keluarga kerajaan ditahan selama beberapa hari di dalam istana, agar tak bisa mengadakan komplotan, sementara orang-orang yang dicuriagi memihak Ratu Kulon disandera tidak boleh meninggalkan Kerajaan.

Putra mahkota Pangeran Adipati Anom yang hadir di Bangsal Sitihinggil dinobatkan sebagai Raja Mataram menggantikan ayahnya Sultan Agung pada tahun 1646 dan bergelar Susuhunan Ing Ngalaga.

Babad Tanah Jawi mencatat, waktu itu tiba-tiba Pangeran Purbaya, kakak Sultan almarhum, naik ke takhta. Bersikap seolah-olah ia yang jadi Susuhunan, ia menantang siapa yang berani melawannya. Yang hadir menundukkan kepala ketakutan.

Merasa aman, Purbaya pun turun dari dampar, bersimpuh di lantai, menyembah raja yang baru.
Raden Mas Sayidin yang telah berubah nama menjadi Sinuhun Hamangkurat Agung mendengarkan sumpah dan janji setia dari para pejabat tinggi Mataram. Baik sipil maupun militer. Ucapan serupa juga disampaikan dari kerabat kerajaan.

Usai pengucapan sumpah setia itu, para kerabat, pejabat hingga abdi dalem Mataram menghampiri Susuhunan sambil jalan merangkak. Atau laku dodok untuk kemudian mencium kaki raja. Namun laku dodok maupun cium kaki tidak diminta Susuhunan kepada adiknya, Pangeran Alit.

Setelah semua proses pengucapan janji dan sumpah setia hingga mencium kaki raja selesai, Susuhunan Amangkurat I segera menyampaikan pidato politik.

Dalam pernyataannya, raja baru menegaskan komitmennya. Dia berjanji melanjutkan cita-cita ayahnya yang belum terwujud.
Amangkurat I berjanji menghormati semua pejabat kerajaan di era ayahanya. Penghormatan dilakukan lebih daripada yang lain. Dia juga menaikan pangkat luar biasa kepada sejumlah pejabat. Di antaranya Tumenggung Wiraguna.

Baru setelah itu selesai, gerbang kerajaan segera dibuka. Upacara pengangkatan raja kelima Mataram dinyatakan rampung. Raja baru masuk kembali ke keraton. Susuhunan tidak balik ke kediamannya Ndalem Kadipaten, namun langsung tinggal di Ndalem Prabayeksa yang menjadi tempat tinggal raja.

Meski kakaknya telah diangkat sebagai raja baru, Pangeran Alit tetap melanjutkan sikap politiknya. Dia menolak masuk dalam kabinet Amangkurat I. Dia memutuskan tetap berada di luar pemerintahan.
Pangeran Alit memimpin oposisi Mataram. Dalam sikapnya, adik raja ini menegaskan menghormati semua proses transisi kekuasaan dari ayahnya kepada kakaknya.

Namun dia tidak secara eksplisit menerima penetapan Sayidin sebagai pemimpin baru Mataram. Barisan oposisi tetap menghendaki Alit memegang janjinya. Tidak masuk dalam koalisi pemerintahan baru.

Belum lama menjabat, untuk memenuhi ambisinya Amangkurat 1 berkeinginan untuk satu istana baru yang megah dengan benteng-benteng yg kokoh dan parit-parit yg dalam sehingga musuh tidak bisa dibobol oleh musuh. Ia pun mulai membangun istana barunya fi Plered.

Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan:
"Sarupane kawulaningsun kabeh, padha nyithaka bata, ingsun bakal mingser teka ing kutha Kerta, patilasane kanjeng rama ingsun tan arsa ngenggoni. Ingsun bakal yasa kutha ing Plered."

"Semua rakyatku, kalian buatlah bata. Aku akan pindah dari Kerta, karena aku tidak mau tinggal di bekas (kediaman) ayahku. Aku akan membangun kota di Plered".

Ia bertekad hendak meninggalkan Keraton Kerta yang selama bertahun-tahun jadi pusat kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma, pemimpin terkuat Jawa pada masanya
Tiga belas tahun kemudian, pada 1661, sebuah laporan orang Belanda masih menyebutkan bahwa Raja tetap sibuk "menjadikan tempat kediamannya sebuah pulau".

Dua tahun berikutnya Amangkurat memerintahkan agar dibuat "sebuah kolam besar di sekeliling istananya".
Pada 5 September tahun itu juga Baginda menyiapkan lagi pembuatan sebuah batang air di belakang keraton. Sebulan setelah itu penggalian "laut" Segarayasa dimulai.

Mataram dimobilisasi. Tiga ratus ribu orang bekerja, bahkan penduduk daerah Karawang dipanggil tak peduli sawah mereka terbengkalai, dan kekurangan pangan terjadi.

Sebab kehendak sang Raja harus jadi. Dan memang jadi. Pada 1668, seperti disebut dalam buku De Graaf, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I, seorang pejabat VOC berkunjung. Ia berjalan melalui "jembatan di atas parit yang mengelilingi istana".

Parit dan benteng : Amangkurat tak pernah percaya kepada siapa pun di luar dirinya. Ia dirikan keraton baru dengan batu bata, bukan lagi kayu seperti istana ayahnya, Sultan Agung. Ia langsung mengawasi sendiri pembangunannya.

Beberapa pejabat tinggi yang tak mau ikut bekerja diperintahkannya untuk diikat, dibaringkan di paseban, dijemur. Sedangkan penduduk, seperti ditulis dalam Serat Kandha, harus "membakar banyak sekali batu bata".

Benteng itu akhirnya berdiri pada 13 November 1659. Disebutkan tembok keraton itu lima depa tingginya dan dua depa lebarnya. Tapi Baginda toh masih ingin menambahkan lagi "tembok yang serupa sebuah perisai, setinggi dada".
Ditengah pembangunan istananya di Plered, Amangkurat tidak lupa akan dendam pribadinya terhadap Tumenggung Wiraguna yang telah mempermalukannya dihadapan Dultan Agung ayahnya.

Meskipun dikenal jujur dan setia terhadap Negara, tapi rupanya semua prestasi dan kebaikan Tumenggung Wiraguna itu tidak sedikitpun memupuskan dendam Amangkurat I, ia ingin sekali sesegera mungkin menghabisi sang Tumenggung.
Akhirnya, direncanakanlah taktik pembunuhan oleh Amangkurat I, mula-mula atas prestasi gemilang dari sang Tumenggung, Amangkurat I menghadiahkan kenaikan pangkat pada Sang Tumenggung, ia dijadikan sebagai pimpinan pasukan tempur untuk melakukan serbuan terhadap orang-orang Bali yang kala itu bercokol di Blambangan.

Akan tetapi, ketika pasukan Mataram yang dipimpin Tumenggung Wiraguna itu sampai pada tempat yang jauh dari Mataram, Temunggung Wiraguna justru dibunuh ditengah perjalanan, ia dibunuh dengan keji oleh utusan Amangkurat I yang memang sudah dipersiapakan.

Selain dibunuh dengan keji, Tumenggung Wiraguna juga difitnah melakukan makar dan penghianatan terhadap kerajaan, maka atas tuduhan palsu itu, Amangkurat I kemudian mempunyai alasan untuk menumpas seluruh anggota keluarga Tumenggung Wiraguna. Seluruh keluarganya kemudian dibantai tanpa peri kemanusiaan.

Adapun Pangeran Alit, adik dari Amangkurat telah didatangi oleh Tumenggung Pasingsingan dan putranya Agrayuda. Kedua orang ini membujuk Pangeran Alit agar ia merebut tahta kakaknya.

Pasingsingan yang tersisih dari jabatan patih menjamin mampu menyiapkan pasukan guna menduduki kraton, mumpung kraton sedang sepi karena pejabatnya disibukkan untuk mengawasi pembuatan kraton yang baru, dan sebagian sedang dikirim ke Blambangan.

Akhirnya Pangeran Alit terbujuk juga oleh ucapan Tumenghung Pasingsingan dan berjanji akan menduduki kraton bila pemberontakan berhasil menggulingkan Amangkurat 1.

Ki Tumenggung Pasingsingan mulai mencari bantuan kepada orang-orang yang sekira mampu untuk berbuat makar, guna memenuhi ambisinya yang murka panguasa. Tidak membutuhkan waktu lama, terkumpulah orang-orang yang sekongkol dengan Tumenggung Pasingsingan untuk membunuh raja Mataram, agar Pangeran Timur bisa jumeneng berkuasa di Mataram.
Disusunlah rencana untuk merjaya njeng sinuwun, orang-orang sekongkolan itu hanya diwajibkan menemani masuk ke dalam tempat tidur raja, sedang yang akan mengeksekusi nantinya adalah Tumenggung Pasingsingan sendiri.

Namun di luar dugaan Tumenggung Pasingsingan, rencana jahat makar itu ternyata didengar oleh Emban Genuk yang ada di rumah Tumenggung Pasingsingan dan melaporkannya kepada Pangeran Purbaya sebagai penasehat sekaligus pelindung Raja.
Pangeran Purbaya pun segera menyiapkam pasukan untuk menyergap Tumenggung Pasingsingan dan Agrayuda serts pasukannya di tempat yang direncanakan untuk membunuh Amangkurat.

Keduanya akhirnya berhasil dibunuh seperti rencana dan kepala mereka dihaturkan Raja. Raja kemudian mengundang Pangeran Alit dan melemparkan kepala Pasingsingan dan Agrayuda dihadapannya, sembari mengatakan itulah nasib orang-orang yang akan menjadikan dirimu Raja.
Pangeran Alit mengelak dan mengaku bahwa semua itu bukan gagasan dia tetapi Pasingsingan.

Raja memaafkan adiknya tapi memerintahkan agar semua lurah dan pengikutnya diserahkan kepada Raja. Pangeran Alit menyanggupi dan menemui para pengikutnya.

Pengikut Pangeran Alit menangis dan memohon agar ia megurungkan niatnya untuk menyerahkan semua pengikutnya yang jumlahnya tiga ratus orang itu kepada raja karena mereka tahu pasti akan menemui nasib yang sama seperti yang dialami oleh Tumenggung Pasingsingan dan anaknya Agrayuda.
Pangeran Alit tidak tega, sebaliknya justru memerintahkan pengikutnya menyiapkan senjata dan melanjutkan niat sebelumnya untuk menyerang kedaton. Rajapun mengetahui kalau Pangeran Alit hendak menyerang kraton atas informasi dari Ki Dakawana.

Raja yang menyimpan satu siasat memerintahkan prajuritnya agar membiarkan saja Pangeran Alit mengamuk dan menyerang kraton, sekalipun banyak yang tewas karenanya.

Saat menyerang kraton para pengikut Pangeran Alit banyak yang menarik diri, yang tertinggal hanya enam lurahnya yang paling setia.

Saat memasuki Alun-alun Adipati Sampang yang bernama Demang Melaya yang ditugaskan untuk menghadapinya mencoba mencegah Pangeran Alit agar mengurungkan niatnya.

Tetapi niyat Pangeran Alit sudah tak terbendung lagi bahkan ia mebunuh Demang Melaya dengan kerisnya, Setan Kober, yang telah terhunus ditangannya. Para pengikut Adipati sampang marah dan langsung menyerbu Pangeran Alit, dan karena kecapekan menghadapi banyaknya musuh akhirnya Pangeran Alit justru tertusuk oleh kerisnya sendiri Setan Kober. Tangan Raja pun bersih dari pembunuhan.

Jasad Pangeran Alit kemudian diusung ke Siti Hinggil. Sebagai rasa belasungkawa dan kesedihan atas tewasnya Pangeran Alit, raja melukai bahu kirinya dengan kerisnya dan berkata "Aku akan membela adikku." Teatapi segera setelah ia menyatakan berkabung, ia berkata, "Hatiku sudah lega".

Tetapi kisah tidak berhenti di situ. Amangkurat I melihat Pangeran Alit didukung oleh para ulama. Maka kelompok inipun harus dibasmi
Setelah terbunuhnya Pangeran Alit ribuan ulama pendukung Pangeran Alit diburu dan dibunuh.

Dan pada suatu malam Amangkurat menemukan cara tersendiri untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Amangkurat I memanggil empat orang pembesar keraton untuk menghadap. Ia merencanakan pembantaian tanpa menimbulkan kesan dialah otak di balik rencana itu.

Keempat orang tersebut adalah Pangeran Aria, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Ngabehi Wirapatra. Kepada para bawahannya, Amangkurat I memerintahkan mereka untuk menyebar ke empat penjuru mata angin.

Hal tersebut seperti diungkap sejarawan H.J. de Graaf dalam De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram (hlm. 38).

Sang raja berpesan agar jangan ada seorang pun dari pemuka-pemuka agama dalam seluruh yurisdiksi Mataram luput dari pembunuhan.
Dan agar rencana berjalan lebih baik; Amangkurat I memerintahkan pada orang-orang kepercayaannya tersebut untuk menyelidiki lebih dahulu nama, keluarga, dan alamat para pemuka agama yang akan dibinasakan tersebut.

Bagi Amangkurat I, hal ini siasat bagus agar para pengkhianat bisa dilibas dalam sekali pukul. Ketika permufakatan keji mulai dilakukan, Amangkurat sengaja tidak menampakkan diri di luar keraton. Semua sidang peradilan dan pisowanan yang melibatkan dirinya berpindah di dalam istana.

Ia memilih berkonsentrasi penuh agar rencananya berlangsung dengan lancar. Setelah semua informasi yang dibutuhkan sudah terkumpul, ia memberi perintah-perintah terakhir kepada empat orang itu. Ia meminta mereka agar bertindak sebaik-baiknya dan membunuh semua laki-laki, wanita, dan anak-anak.

Konon aba-aba dimulainya persiapan pembantaian berupa bunyi letusan meriam Ki Sapujagat yang terpasang di halaman keraton. Saat semua persiapan sudah dilakukan, pasukan pembantai pun mulai berangkat ke kediaman para calon korban.

Ketika pembantaian itu dilakukan, Amangkurat I cuci tangan dengan mengamankan dirinya masuk ke dalam keraton. Bersikap seolah-olah tidak terlibat dalam pembantaian tersebut.
Esok hari setelah pembantaian berlangsung, ia tampil di muka umum dengan wajah marah dan terkejut. Selama satu jam di depan para pejabat, tidak satu patah kata pun terucap dari mulutnya.

Semua orang yang hadir pun diam dan suasana kian mencekam.
“Tidak seorang pun berani mengangkat kepalanya, apalagi memandang wajah Amangkurat I,” catat van Goens.

Setelah mengucap beberapa kalimat yang menuduh para ulama yang bersalah atas kematian Pangeran Alit sehingga pantas mendapat balasan setimpal, ia memerintahkan delapan pembesar yang dicurigai untuk diseret ke hadapannya.

Mereka dipaksa mengaku telah merencanakan makar kepada Amangkurat I dengan mengangkat Alit menjadi raja. Dalam situasi macam itu, tak ada yang bisa mereka lakukan selain mengaku.

Delapan pembesar itu akhirnya bernasib sama dengan para ulama. Mereka beserta seluruh keluarganya dibunuh. Sang raja kemudian masuk kembali ke dalam keratonnya dengan penuh amarah.

Seperti dicatat van Goens, “Ia meninggalkan semua pembesar yang sudah tua dan diangkat semasa pemerintahan ayahnya itu dalam suasana tercekam dan penuh kekhawatiran".

Tidak ada sumber sejarah lokal yang menyebut bagaimana pembantaian tersebut berlangsung. Babad-babad Jawa semuanya membisu ketika memasuki fase paling mengerikan dalam sejarah Mataram ini.

Satu-satunya sumber yang bisa diandalkan hanyalah catatan Rijcklofs van Goen, pejabat VOC yang saat itu berdinas di Mataram, yang kemudian diterbitkan dalam De vijf gezantschapsrei zen naar het hof van Mataram.

Dan yang pasti, pembantaian berlangsung amat cepat, hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Hari itu, di suatu siang yang terik tahun 1648, sekitar 6000 ulama dan keluarga mereka yang menetap di wilayah kekuasaan kerajaan Mataram harus mati karena kekejian sang raja.

Mengutip keterangan van Goens dalam catatannya, H.J. de Graaf menggambarkan: “Belum setengah jam berlalu setelah terdengar bunyi tembakan, 5 sampai 6 ribu jiwa dibasmi dengan cara yang mengerikan.” Tulis H.J. de Graaf dalam catatannya.




____________________
Sumber :
Subhan Mustaghfirin
Suksesi Berdarah Tahta Mataram





Jejak Spiritual$type=complex$count=4

Portal News - NETIZENWORD.com. Berbagi informasi, tentang : sejarah, budaya, spiritual, wisata daerah, peristiwa dan informasi publik, berkontribusi sebagai Media Warga, untuk memberikan informasi dari berbagai peristiwa, kegiatan, baik daerah maupun nasional
Name

Artikel,63,Baksos,18,Balon Laka - Lantas,3,Balon Lebaran,2,Balon Udara,4,Bangkalan,1,Bendungan Bendo,1,Berita,277,Bhayangkari,8,BPD,1,Budaya,2,Cegah Covid-19,135,Cerita Bermakna,20,Cirebon,2,CPNS,1,Cuaca,12,Daftar Raja - Raja Majapahit,1,Dana Desa 2020,3,Dana Desa 2021,1,Daya Spiritual,5,Demak,1,Dewan,29,DPRD,1,Dunia Spiritual,6,Ekonomi,37,Fenomena Alam,7,Giat,311,Gresik,24,Info kesehatan,23,Iptek,8,Jatim,49,Javanese Spiritual,12,Jejak Spiritual,11,Jember,1,Kabar-kabari,3,Kabupaten ODF,1,Kampung Tangguh Semeru,4,Kasus,51,Kebakaran,1,Kebangsaan,1,Keris,9,Kesehatan,3,Kodim 0802/Ponorogo,2,Kuliner,9,Kunker,1,Laka - Lantas,14,Madiun,48,Magetan,4,Mitos - Mistik,12,Mobil Covid Hunter,1,Narkoba,10,Olah raga,3,Operasi Patuh,1,Operasi Zebra,1,Ops Yustisi,3,Orang Meninggal,13,Outomotif,1,Pacitan,1,Pekanbaru,5,Pembangunan,7,Pendidikan,9,Penemuan,5,Peristiwa,63,Pertanian,9,Pesona Indonesiaku,30,Photo News,1,Pilkada,16,PKS Ponorogo,1,Polda Jatim,9,Polres,138,Polri,324,Polsek Siman,1,Polsek Slahung,1,Polsek Sooko,1,Polsek Sukorejo,2,Ponorogo,300,Presiden Joko Widodo,1,Program PTSL,1,PSHT Pusat Madiun,1,Publik,24,Puncak Jaya,69,Religi,13,Reyog,1,Riau,3,Satpol PP,3,Sejarah,139,Sugiri Sancoko,1,Sumenep,1,Tanaman Bermanfaat,30,Tips Bermanfaat,8,TNI,72,Tokoh,42,TP PKK,13,Tradisi,8,Trenggalek,2,Umum,10,Virus Corona,20,Waduk Bendo,1,Wayang,7,Wisata Daerah,49,Wisata Religi,17,
ltr
item
Netizen Word: Pergolakan Tahta Mataram : Pangeran Adipati Anom, Pangeran Alit dan Tumenggung Wiraguna
Pergolakan Tahta Mataram : Pangeran Adipati Anom, Pangeran Alit dan Tumenggung Wiraguna
https://1.bp.blogspot.com/-8Kb_s1LiK4U/XpFDXUmkTrI/AAAAAAAAFVo/VZxS1LR8N0QM65rpYqwQh6V7IU4GsdPvQCLcBGAsYHQ/s320/IMG-20200411-WA0017.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-8Kb_s1LiK4U/XpFDXUmkTrI/AAAAAAAAFVo/VZxS1LR8N0QM65rpYqwQh6V7IU4GsdPvQCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20200411-WA0017.jpg
Netizen Word
https://www.netizenword.com/2020/04/pergolakan-tahta-mataram-pangeran.html
https://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/2020/04/pergolakan-tahta-mataram-pangeran.html
true
1914908294925827969
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy