Portal News - NETIZENWORD.com. Berbagi informasi, tentang : sejarah, budaya, spiritual, wisata daerah, peristiwa dan informasi publik, berkontribusi sebagai Media Warga, untuk memberikan informasi dari berbagai peristiwa, kegiatan, baik daerah maupun nasional


Keperkasaan Armada Laut Kerajaan Jawa


Istilah nāgara dalam bahasa Jawa Kuna tidak sama dengan kerajaan. Istilah kerajaan mengacu pada kata puri.

Dan nama kerajaan sendiri adalah Jawa. Ini dapat dapat dilihat dari penjelasan Nāgarakŗtāgama 16.5.1: irika tang anyabhūmi sakhahěmban in Yawapurī‘kemudian tanah-tanah lain di mana saja, yang semuanya disatukan di Kerajaan Jawa’.

Kerajaan Jawa adalah kerajaan yang terdiri dari banyaknāgara. Sakweh śrī Yawa rāja sapada madudwan nāgarâtunggalan, ekhasthāna ri Wilwatikta mangisapwi sang narêndrâdipa ‘Seluruh raja Jawa menjadi tamu, mereka berlain-lainan nāgaratetapi bersatu padu ke Wilwatikta mendukung sang raja besar’, Nāg. 6.4.3-4.

Negara maritim adalah negara yang memiliki visi atau pandangan hidup maritim untuk mengontrol dan memanfaatkan laut sebagai syarat mutlak mencapai kesejahteraan dan kejayaan.

Enam syarat negara maritime adalah lokasi geografis, karakteristik tanah dan pantai, luas wilayah, jumlah penduduk, karakter penduduk, serta pemerintahan (Nugroho, 2010:13; Suroyo, dkk. 2007:11).

Negara maritim harus dapat mengendalikan pulau-pulau yang menjadi wilayah kekuasaannya, sehingga wajib memiliki armada laut yang tangguh, baik armada perang maupun armada dagang (Nugroho, 2010:13; Suroyo, dkk., 2007:43).

Kenneth R. Hall menyatakan bahwa ada lima zona komersial di Asia Tenggara pada abad ke-14 dan awal abad ke-15.

Pertama, zona Teluk Benggala, mencakup India Selatan, Srilangka, Birma, dan pantai utara Sumatera. Kedua, kawasan Selat Malaka.

Ketiga, kawasan Laut Cina Selatan, meliputi pantai timur Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Vietnam Selatan.

Keempat, kawasan Sulu, mencakup pantai barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanau, dan pantai utara Kalimantan.

Kelima, kawasan laut Jawa, meliputi Kalimantan Selatan, Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan Nusa Tenggara (Nugroho, 2010:13–14; Suroyo, dkk., 2007:9).

Selain lima zona itu ada dua zona lain, yaitu kawasan Laut Arab, meliputi Cochin, Malabar, Oman, dan Aden; dan kawasan Laut Merah, meliputi Mombasa, Mogadishu, Muza, Berenike, yang berujung di Alexandria (Nugroho, 2010:14).
Ketujuh zona komersial itu tidak terbatas pada abad ke-14 dan awal abad ke-15 saja, melainkan pada abad-abad sebelumnya juga sudah berlangsung.

Demikian pentingnya tujuh zona komersial menyebabkan gesekan perebutan dominasi di kawasan itu, baik oleh Arab (Dazi), India (Magadha, Colamandala, Pandya), Daratan Asia Tenggara (Khmer), Mongol, maupun Jawa.

Perebutan dominasi itu juga melibatkan Jawa dan wilayah sekitarnya, seperti kerajaan-kerajaan di Sumatera, Malaka, Kalimantan, dan Sulawesi (Nugroho, 2010:14).

Secara umum, gesekan perebutan dominasi di tujuh zona komersial menyebabkan konflik terbuka seperti Mongol dengan Jawa, India dengan Jawa, Khmer dengan Jawa, serta Jawa dengan Sumatera, dan konflik tertutup dengan Arab.

Dalam setiap konflik tersebut Jawa selalu menang, sehingga kapal-kapal Jawa mendominasi seluruh kawasan.
Jawa memiliki lebih dari 2.800 perahu dalam satu ekspedisi (Nugroho, 2010:16).

Armada Kapal Laut Jawa Masa Mataram Kuno

Berdasarkan prasasti Mantyasih I dapat diketahui bahwa raja pertama Mataram Kuna adalah Sanjaya atau rahyanta ri Mdang menurut prasasti Wanua Tengah III.

Sanjaya naik tahta pada 717 M dan memerintah selama 29 tahun sampai 746 M. Pada masa pemerintahannya, Sanjaya mengeluarkan prasasti Canggal (732 M). Dari prasasti ini dapat diketahui bahwa sebelum Sanjaya naik tahta, maka raja yang memerintah Jawa atau Ho-ling adalah Sanna.

Raja ini kemudian meninggal karena diserang oleh musuh. Karena ibukota kerajaan telah diserang musuh maka ketika Sanjaya naik tahta setelah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya, ia memindahkan pusat kerajaannya ke Medang yang terletak di Poh Pitu.

Sanjaya adalah anak Sannaha saudara Sanna (Poesponegoro, 1984:94).
sumber Arab yang ditulis Sulayman dalam perjalanannya ke India dan Tiongkok pada 851, yang menyebut Sribuza (Sriwijaya), Ramni (daerah di Sumatra), dan Kalah (Semenanjung Tanah Melayu), sebagai daerah Jawa (Mdang).

Keterangan aneksasi atas Sriwijaya diperkuat berita dari Tiongkok masa Dinasti T’ang. Dinyatakan bahwa Shih-li-foshih (Sriwijaya) mengirim utusan ke Tiongkok pada 670-673, 713-741, dan terakhir pada 742. Sejak itu tak ada lagi.

Menurut Baskoro, ekspedisi yang dilancarkan Sanjaya bertujuan untuk menguasai lima zona komersial di kawasan Asia Tenggara.

Artinya, data filologi menunjukkan kalau tradisi maritim sudah dianut kerajaan-kerajaan kuno Nusantara sejak lama.
“Sebagai kerajaan yang mampu bertahan 300 tahun, mustahil Mataram Kuno tak punya armada laut yang kuat,” tulis Baskoro.

Pandangan politik Sanjaya dilanjutkan penerusnya. Arkeolog Puslit Arkenas, Bambang Budi Utomo dalam Kapal-Kapal Karam Abad ke-10 di Laut Jawa Utara Cirebon menjelaskan, sekira abad ke-8, ada petunjuk kalau Jawa (Mataram) dan Khmer terjadi hubungan politik. Hubungan keduanya ketika itu tak begitu baik.

Sumber sejarah yang menyiratkan itu justru diperoleh dari prasasti yang ditemukan di Kamboja. Isinya tentang penyerangan, diikuti pembakaran oleh pasukan yang datang dari Jawa.
penyerangan Jawa atas Kamboja begitu membekas di hati rakyatnya. Ini pun menjadi cerita yang disampaikan oleh orang-orang Khmer kepada saudagar Arab ketika berkunjung pada 851.

Saudagar Arab bernama Sulayman menceritakan kekalahan Raja Khmer akibat serangan pasukan Sri Maharaja dari Zabaj. Nama Sri Maharaja ini disebutkan juga di dalam beberapa prasasti abad ke-8, baik yang ditemukan di Kalasan, Yogyakarta (775) maupun yang di Tanah Genting Kra, yaitu Ligor B (778).

Mungkin, kata Bambang, yang dimaksud Sri Maharaja pada berita Arab adalah Rakai Panamkaran, Raja Kerajaan Mataram.

Dia naik takhta menggantikan ayahnya, Sanjaya, pada 746. “Sekaligus Datu Sriwijaya yang di dalam berbagai prasasti disebut dengan julukan ‘pembunuh musuh-musuh yang gagah berani." lanjutnya.

Jawa rupanya tak hanya menyerang Kamboja. Mereka juga menyerang Champa.
Menurut tradisi Sejarah Vietnam, pada 767, Champa diserbu oleh penyerang dari K’un-lun dan Da-ba atau Chö-po (Jawa).

Serangan terakhir yang cukup menghancurkan terjadi pada 787 sebagaimana tertulis dalam Prasasti Yang Tikuh yang dikeluarkan Raja Indrawarman.

Sejarawan sekaligus Direktur Miami University Art Museum, Robert S. Wicks dalam Money, Markets, and Trade in Early Southeast Asia menjelaskan keterangan dalam prasasti itu di antaranya berisi tentang pembangunan ulang Candi Bhadradhipatisvara yang terbakar akibat serangan pasukan Jawa.
Serangan Jawa ke kerajaan yang kini masuk bagian Vietnam itu cukup beralasan.

Champa pada abad ke-7 menjalin hubungan persahabatan dengan Chen-la (Kamboja) yang banyak menguasai jalur perdagangan dan pelayaran di Laut Tiongkok Selatan. Berkat persahabatan itu, Champa memegang hegemoni pelayaran dan perdagangan di Laut Tiongkok Selatan.

Setidaknya hegemoni pelayaran dan perdagangan di Laut Tiongkok Selatan itu berlangsung hingga 767. Ketika itu Champa diperintah oleh Prthiwindrawarman.

Armada Laut Jawa Masa Kediri

Pada pemerintahan Joyoboyo kekuatan militer kerajaan Kediri terletak pada angkatan lautnya yang kuat. Pada masa itu angkatan laut kerajaan Kediri mampu menjaga wilayah kerajaan di sebrang pulau yang jauh dari pusat kerajaan.

Angkatan Laut Kediri yang cukup tangguh. Armada laut Kediri mampu menjamin keamanan perairan Nusantara.

Di Kediri telah ada Senopati Sarwajala (panglima angkatan laut). Sriwijaya mengakui kebesaran Kediri.
Kondisi politik pemerintahan serta kondisi masyarakat di Kediri ini dicatat dalam berita dari Cina, yakni dalam kitab Ling-Wai-tai-ta yang ditulis oleh Chou K’u-fei pada tahun 1178 serta pada kitab Chu-fan-chi yang disusun oleh Chaujukua pada tahun 1225.

Kitab itu menggambarkan kondisi pemerintahan serta masyarakat jaman Kediri. Kitab itu menggambarkan masa pemerintahan Kediri termasuk stabil serta pergantian tahta berjalan lancar tanpa menyebabkan perang saudara.

Di dalam menjalankan pemerintahannya, raja dibantu oleh tiga orang putranya serta empat pejabat kerajaan (rakryan), ditambah 300 pejabat sipil (administrasi) serta 1.000 pegawai rendahan. Prajuritnya berjumlah 30.000 orang dengan memperoleh gaji dari kerajaan.

Sungai Brantas yang membelah kota kediri, pada masa silam diperkirakan dilayari oleh kapal kapal dagang dan perang mulai dari pelabuhan laut di Surabaya sampai ke kerajaan Kediri. Dimana tempat sandar kapal kapal tersebut saat ini dikenal dengan nama Bandar.

Kerajaan Kediri menurut berita Cina adalah Kerajaan Kuat dan Kaya, waktu itu didunia ada 3 Kerajaan yang kuat dan Kaya, yaitu Abasiyah yang berpusat di Arab, Sriwijaya yang berpusat di Sumatra dan Kediri yang berpusat di Jawa, begitulah berita yang disampaikan Chou Ku-fei pada tahun 1178.

Sementara menurut berita lokal, munculnya Kediri di Nusantara membuat ketar-ketir Sriwijaya, keduanya bahkan sempat saling serang namun untuk menghindari kehancuran dan penderitaan rakyat maka dibuatlah kemudian perjanjian damai Kediri-Sriwijya.

Armada Kapal Laut Jawa Masa Singasari Kediri

dalam catatan jendral shi bhi yaitu jendral yuan mongol saat memimpin pasukanya menyerbu singhasari dan mendapati raja kertanegara sudah terbunuh oleh Jayakatwang maka yuan mongol meneruskan untuk menyerang Raja jayakatwang dari kediri.

Dalam catatanya shi bhi menuliskan berhasil menawan 100 kapal besar berkepala setan saat berhadapan dengan pasukan pendukung jayakatwang dari kediri.

Armada Kapal Laut Jawa Masa Majapahit

Majapahit merupakan kelanjutan dari Kerajaan Singasari. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terkaya dan mempunyai jumlah perahu dan kapal terbesar di Dunia. Namun juga merujuk kitab-kitab “musuh Majapahit” misalnya Kidung Sundayana, Hikayat Banjar, Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah dan sebagainya.

Dari situ, terungkaplah berapa jumlah kapal milik Majapahit yang sekitar 2800 perahu/kapal ( minimal ), kerajaan Makasar 200 kapal, kerajaan Siam 100 kapal, kerajaan Cina 100 kapal, kerajaan Portugis 43 kapal. Kekuatan maritime Majapahit memungkin untuk melakukan ekspansi wilayah ke Nusantara yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Indonesia. Ekspansi wilayah dimulai pada masa raja ketiga yaitu Tribhuwana Tungga Dewi Jaya Wisyhu Wardhani (1328-1350) dan dilanjutkan putranya Hayam Wuruk (1350-1389).

Motor penggerak penguasaan wilayah adalah Mahapatih Gadjah Mada yang bercita-cita menaklukkan Nusantara dengan “Sumpah Palapa”. Kerajaan Majapahit berkembang bukan hanya dari basis ekonomi pertanian namun juga pengembangan kegiatan pelayaran dan perdagangan sebagai sebuah negara maritim.

Perdagangan laut itu bukan hanya dilakukan antara satu daerah dengan daerah lain di Nusantara, tetapi juga perdagangan internasional dengan kawasan yang lebih luas.

Pigeaud berpendapat bahwa barang-barang impor telah dikenal oleh masyarakat Majapahit hingga pedalaman seperti tekstil dari India dan barang-barang dari Cina seperti mata uang,barang-barang pecah belah dan batu mulia. Chao Ju-Kua memberikan kesaksian bahwa komoditas Cina yang dibeli oleh para pedagang Jawa mencakup emas, perak, sutera, pernis, dan porselin.

Begitu berkembangnya daya beli para pedagang Jawa sehingga menyebabkan Kekaisaran Cina pernah melarang perdagangan dengan Jawa karena menyebabkan terjadinya penyedotan mata uang Cina ke Jawa melalui perdagangan rempah-rempah, khususnya lada.

Perlu diingat bahwa Tome Pires yang berkunjung di pelabuhan-pelabuhan di Jawa pada awal abad XVI mendengarkan dengan telinganya sendiri bahwa kebesaran Majapahit sudah beredar di kalangan banyak orang pada waktu itu. Ia mengatakan bahwa: They say that the island of Java used to rule as far as the Moluccas (Maluco) on theeastern side and (over) a great part of the west; and that it had almost all this for a longtime past until about a hundred years ago, when its power began to diminish until it came to its present state.

J. Noorduyn memberitakan bahwa lontara bilang (Makasar) dan sure’ bilang (Bugis) mencatat bahwa orang membuat/memakai kompas pertama pada th 1303 dan meriam dibuat/dipakai pertama kali pada th 1380.

Yang membawa dan memperkenalkan teknologi tersebut di Makasar adalah diduga orang-orang Majapahit, orang Arab, orang Persia, orang Keling dan orang Cina
Kapal Jung Jawa 2-3 Kali Lipat Dari Kapal Pusaka Cheng Ho
Jong adalah sebuah kata Jawa Kuno yang berarti sebangsa perahu (P.J. Zoetmulder, 1995: 427).

Dalam khazanah Melayu, kata Jong disebut juga dengan istilah Jung (SM.V: 47 dan SM. X: 77). Menurut khazanah Melayu pula, Jong adalah kapal yang hanya dimiliki oleh Jawa (HRRP: 95, HHT: XII: 228). Keterangan ini sangat berbeda dengan keterangan sejarawan Eropa umumnya. Mereka menyebut kapal-kapal Cina juga dengan istilah jung.

Para sejarawan Eropa dan nasional menengarai kapal-kapal Majapahit dalam beberapa penelitian, menggunakan cadik sebagaimana kapal Borobudur.

Disebutkan bila pada abad ke-15 hingga ke-16 kapal Jung tidak hanya digunakan pada pelaut Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis ini.

Keterangan itu tidak sepenuhnya tepat. Para pelaut Melayu menggunakan kapal Jung dicatat dalam Hikayat Hang Tuah setelah Putri Raja Majapahit menikah dengan Sultan Malaka. Kapal yang dimilikinya pun hanya 1. Kapal yang digunakan pelaut Melayu adalah kapal Ghali atau Galleon. Sedangkan kapal yang digunakan pelaut Cina dalam catatan Melayu baik Sejarah Melayu dan Hikayat Banjar adalah Pilu dan Wangkang.

Menurut catatan para penulis Portugis, Jong disebut dengan Junco. Sedangkan para penulis Italia menyebut dengan istilah zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli.

perbandingan Kapal Jong Jawa dengan Kapal Pusaka Cheng Ho :
Dalam Sejarah Dinasti Ming Kapal Pusaka, Kapal yang dinaiki Cheng Ho dicatat memiliki panjang 138 meter dan lebarnya sekitar 56 meter.

Jika dibandingkan dengan kapal Jong Jawa, kapal Pusaka Cheng Ho tidak ada apa-apanya. Kapal Jong Jawa 2,2-2,8 kali lebih besar dari Kapal Pusaka Cheng Ho. Kapal Pusaka Cheng Ho pun hanya 1 buah.

Sedangkan Kapal Jong Jawa yang dimiliki Majapahit sebanyak 400 buah.
Berbeda dengan Kapal Pusaka Cheng Ho yang hilang sebelum kedatangan Portugis, Kapal Jong Jawa tetap berlayar hingga Jaman Portugis. Hilangnya Kapal Jong Jawa karena politik Isolasi Diri masa Mataram.

Penjelasan tentang kapal Majapahit dengan nama Jong terdapat pada sumber Arjunawijaya bagian 8.11, Sutasoma bagian 114.11 dan ranggalawe bagian 2.11. Dengan nama Jong dan perahu pada Harsa- Wijaya bagian 1.74, 2.101 dan 23.6. Dengan nama Jukung pada Kidung Sunda bagian 1.40. Dengan nama perahu pada Pararaton bagian 12, 27 , 30, 31 dan 39.

Kapal Majapahit memiliki panjang 313.2 meter sampai 391,5 meter dan lebar 4-5 kali kapal Flor de la Mar. Dinding kapal tediri dari 4 lapis papan tebal yang berukuran 40-50 cm. Kapal Majapahit menggunakan dua dayung yang digunakan untuk mengemudikan kapal.

Layar kapal besar dengan tiang tinggi, ukuran sangat besar, kecepatan laju kapal kurang dan tidak dapat melakukan maneuver cepat. Stabil di Laut dan tidak dapat memasuki wilayah sungai. persenjataan dilengkapi meriam.
Di berbagai catatan Melayu, setiap kerajaan rata-rata menggunakan 100-200 kapal dalam berbagai tipe untuk setiap ekspedisinya. Seorang pedagang kaya di Nusantara rata-rata menggunakan 40 perahu.

Hikayat Raja-raja Pasai (bertarikh Abad-4M) bab 3 ayat 98 mencatat ekspedisi Majapahit ke Pasai terdiri atas 400 jong yang sangat besar dan banyak lagi malangbang dan kelulus. Bila mengacu pada catatan Hikayat Hang Tuah (bertarikh abad 15M) bahwa setiap perahu besar didampingi 6 kapal kecil, maka ekspedisi armada Majapahit ke Pasai dan Nusantara itu terdiri dari 2800 kapal.

Sejarah Melayu (bertarikh 1612M), 5.4:47 menulis tentang ekspedisi Majapahit ke Singapura I…”Maka betara Majapahit pun menitahkan hulubalangnya berlengkap perahu akan menyerang Singapura itu, 100 buah jung; lain daripada itu beberapa melangbing dan kelulus, jongkong, cecuruh, tongkang, tiada terhisapkan lagi banyaknya.”

Sejarah Melayu *bertarikh 1612M) 10.4:77 menulis tentang ekspedisi Majapahit ke Singapura II…”Maka bagindapun segera menyuruh berlengkap 300 buah jung, lain dari pada itu kelulus, pelang, jongkong tiada terbilang lagi.”

Jumlah 200 kapal dalam ekspedisi Cheng Ho yang ditulis oleh Jawa Pos selevel dengan ekspedisi kerajaan Makassar dalam ekspedisinya ke Semerluki menggunakan 200 kapal.

Sebagaimana yang dicatat dalam Sejarah Melayu (bertarikh 1612M) 19.2:165 menulis……”Maka Semerluki pun berlengkap 200 banyaknya kelengkapan pelbagai rupa perahunya.”

1. Hikayat Hang Tuah mencatat perahu terbesar yang pernah dibuat adalah bahtera milik Raja Chulan dari Sailan (Srilangka) ketika meminang puteri dari Raja Melaka.

Didesain untuk menampung 90.000 orang ukuran kapal sangat besar yaitu dengan panjang 10.000 meter dan lebar 2.500 meter. Perahu dengan desain sebesar ini tenggelam di muara Terengganu sebelum menyelesaikan misi ekspedisinya sehingga tidak ada lagi kerajaan yang mau mendesain kapal raksasa melebihi kemampuan kayu.

2. Robert Dick-Read dalam bukunya berjudul Penjelajah Bahari (Penerbit Mizan, 2005) terjemahan dari Phantom Voyager: Evidents of Indonesian Setllement in Africa in Ancient Times (Thurlton Publishing, UK 2005) menampilkan catatan dari sejarawan Portugis, Gaspar Correria, ketika ia mengikuti kunjungan pertama Gubernur Alfonso de Albuquerque ke Malaka. Ia mencatat serbuan dari Armada Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor (Patiunus) ke kedudukan Portugis di Malaka pada tahun 1512 setahun setelah penguasaan Portugis di Malaka.
Ia membandingkan kapal induk yang dipakai oleh armada Jawa dengan kapal terbesar Portugis yaitu kapal Flor de La Mar.

Setelah direkonstruksi kapal induk (junco) Jawa tersebut panjangnya antara 313,2 meter - 391,5 meter.
Menurut catatan Hikayat Hang Tuah, rata-rata desain kapal Majapahit menggunakan perbandingan 1:4 sehingga lebih langsing dari kapal Cheng Ho yang berdesain 1:2,4 atau kapal Eropa yang berdesain 1:3.
Jadi kapal junco Jawa yang menyerang Portugis tersebut panjangnya sekitar 313 – 391 meter dengan lebar sekitar 75 meter.

Kapal Jawa Masa Demak

Dalam sebuah surat kepada Alfonso de Albuquerque, dari Cannanore, 22 Februari 1513, Fernao Peres de Andrade, Kapten armada yang diarahkan Pate Unus, mengatakan: "Jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang dilihat oleh orang-orang dari daerah ini. Ia membawa seribu orang tentara di kapal, dan Yang Mulia dapat mempercayaiku ... bahwa itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilihat, karena Anunciada di dekatnya tidak terlihat seperti sebuah kapal sama sekali. Kami menyerangnya dengan bombard, tetapi bahkan tembakan yang terbesar tidak menembusnya di bawah garis air, dan (tembakan) esfera(meriam besar Portugis) yang saya miliki di kapal saya berhasil masuk tetapi tidak tembus; kapal itu memiliki tiga lapisan besi, yang semuanya lebih dari satu koin tebalnya.

Dan kapal itu benar-benar sangat mengerikan bahkan tidak ada orang yang pernah melihat sejenisnya. Butuh waktu tiga tahun untuk membangunnya, Yang Mulia mungkin pernah mendengar cerita di Malaka tentang Pati Unus, yang membuat armada ini untuk menjadi raja Malaka." Fernao Peres de Andrade, Suma Oriental Wikipedia.

Kalau kapal junco Jawa pada jaman Demak saja sudah sebesar itu apalagi kapal-kapal armada Majapahit pada jaman keemasannya (Laksamana Nala dan Mahapatih Gajah Mada), tidak bisa dibandingkan dengan kapal Cheng Ho di jaman yang sama.

Tidak usah pada tahun 1400M atau 1500M, catatan Dinasti Wu (abad 3M) saja sudah menulis bahwa pada abad 3 saja kapal Jawa Kun Lun Po sudah memiliki ukuran panjang hingga 200 kaki (sekitar 50 meter).



_________________
sumber :
- seruni id - sejarah kerajaan kediri.
- baltyra com - armada terhebat sepanjang sejarah.
- alhamdulillah berkah web unair ac id - Koleksi Museum Kapal - majapahit.
- baixardoc com - kerajaan maritim nusantara.
- ujpunj2012 blogspot - kapal majapahit.
- historia id - kuno - articles ekspedisi mataram kuno ke luar - Jawa.
- kebudayaan - kemdikbud go id - ditpcbm mataram kuna agraris atau maritim.


GIAT TNI - POLRI$type=carousel






JEJAK SPIRITUAL$type=complex$count=4

Portal News - NETIZENWORD.com. Berbagi informasi, tentang : sejarah, budaya, spiritual, wisata daerah, peristiwa dan informasi publik, berkontribusi sebagai Media Warga, untuk memberikan informasi dari berbagai peristiwa, kegiatan, baik daerah maupun nasional
Name

Artikel,63,Baksos,18,Balon Laka - Lantas,3,Balon Lebaran,2,Balon Udara,4,Bangkalan,2,Bendungan Bendo,1,Berita,257,Bhayangkari,8,BPD,1,Budaya,2,Cegah Covid-19,130,Cerita Bermakna,20,Cirebon,2,CPNS,1,Cuaca,12,Daftar Raja - Raja Majapahit,1,Dana Desa 2020,3,Dana Desa 2021,1,Daya Spiritual,5,Demak,1,Desa Gondowido,1,Dewan,28,DPRD,1,Dunia Spiritual,6,Ekonomi,29,Fenomena Alam,7,Giat,309,Gresik,24,Hukum,1,Info kesehatan,23,Iptek,8,Jatim,49,Javanese Spiritual,12,Jejak Spiritual,11,Jember,1,Kabar-kabari,3,Kabupaten ODF,1,Kampung Tangguh Semeru,4,Kasus,51,Kebakaran,1,Kebangsaan,1,Keris,9,Kesehatan,3,Kodim 0802/Ponorogo,3,Kuliner,9,Kunker,1,Laka - Lantas,14,Madiun,49,Magetan,4,Mitos - Mistik,12,Mobil Covid Hunter,1,Mojokerto,1,Narkoba,10,Olah raga,4,Operasi Patuh,1,Operasi Zebra,1,Ops Yustisi,3,Orang Meninggal,11,Outomotif,1,Pacitan,2,Pekanbaru,5,Pembangunan,4,Pendidikan,11,Penemuan,5,Peristiwa,64,Pertanian,5,Pesona Indonesiaku,30,Photo News,1,Pilkada,15,PKS Ponorogo,1,Polda Jatim,12,Polres,139,Polres Ponorogo,7,Polres Sukorejo,1,Polri,324,Polsek Bungkal,1,Polsek Mlarak,1,Polsek Pulung,1,Polsek Siman,2,Polsek Slahung,1,Polsek Sooko,2,Polsek Sukorejo,2,Ponorogo,285,Presiden Joko Widodo,1,Program PTSL,1,PSHT Pusat Madiun,1,Publik,23,Puncak Jaya,72,Religi,13,Reyog,1,Riau,3,Satlantas,1,Satpol PP,3,Sejarah,139,Sugiri Sancoko,1,Sumenep,1,Tanaman Bermanfaat,30,Tips Bermanfaat,7,TNI,71,Tokoh,42,TP PKK,13,Tradisi,8,Trenggalek,2,Umum,10,Vaksinasi,8,Virus Corona,20,Waduk Bendo,1,Wayang,8,Wisata Daerah,50,Wisata Religi,17,
ltr
item
Netizen Word: Keperkasaan Armada Laut Kerajaan Jawa
Keperkasaan Armada Laut Kerajaan Jawa
https://1.bp.blogspot.com/-nDY2WcKbxwA/XpfWcUIV0yI/AAAAAAAAFc4/8OAFvqtuvngT4yDaJbqjJIxgTI9-YTK5QCLcBGAsYHQ/s320/IMG-20200416-WA0012.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-nDY2WcKbxwA/XpfWcUIV0yI/AAAAAAAAFc4/8OAFvqtuvngT4yDaJbqjJIxgTI9-YTK5QCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20200416-WA0012.jpg
Netizen Word
http://www.netizenword.com/2020/04/keperkasaan-armada-laut-kerajaan-jawa.html
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/2020/04/keperkasaan-armada-laut-kerajaan-jawa.html
true
1914908294925827969
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy