Portal News - NETIZENWORD.com. Berbagi informasi, tentang : sejarah, budaya, spiritual, wisata daerah, peristiwa dan informasi publik, berkontribusi sebagai Media Warga, untuk memberikan informasi dari berbagai peristiwa, kegiatan, baik daerah maupun nasional


Mengenal Sosok Srikandi Dalam Tokoh Pewayangan

Ilustrasi salah satu tokoh dalam wayang, Dewi Srikandi.

DEWI SRIKANDI, salah seorang istri Arjuna. Ia adalah putri kedua Prabu Drupada dari Kerajaan Cempalaradya, sedangkan ibunya bernama Dewi Gandawati. Kakaknya yang sulung bernama Dewi Drupadi alias Dewi Krisna, dipersunting oleh Prabu Yudistira. Dewi Srikandi juga mempunyai adik laki-laki bernama Drestajumena.



Dalam pewayangan, Dewi Srikandi digambarkan sebagai wanita cantik yang terampil dalam ilmu keprajuritan. Bahkan para dalang menceritakan, ketika dilahirkan bayi Srikandi telah mengenakan pakaian perlengkapan perang. Dewi Srikandi mahir memanah, karena pernah belajar pada Arjuna. Namun, menurut Kitab Mahabharata, Srikandi yang di dalam kitab itu disebut bernama Sihkandin, adalah pria yang kebanci-bancian.

Ketika Dewi Srikandi meningkat dewasa, ia dipinang oleh raja tampan dan kaya bernama Prabu Jungkungmardeya dari Kerajaan Paranggubarja. Pada awalnya Prabu Drupada menerima lamaran itu. Hal itu terutama disebabkan karena raja Cempalaradya itu tahu benar kekuatan tentara Paranggubarja. Bila lamaran itu ditolak, tentu Prabu Jungkungmardeya yang telah terkenal akan kesaktiannya itu akan menyerbu negaranya. Namun, Dewi Srikandi tidak ingin menjadi istri Prabu Jungkungmardeya karena diam-diam sebenarnya ia mencintai Arjuna. Pada malam menjelang pernikahan, Dewi Srikandi menghilang dari keputren.

Seluruh Kerajaan Cempalaradya geger dibuatnya. Semua orang bingung mencari Srikandi. Begitu pula Prabu Jungkungmardeya dan anak buahnya.
Dewi Srikandi ternyata melarikan diri ke Kasatrian Madukara, tempat tinggal Arjuna. Kepada Arjuna, putri Cempala ini minta agar ia diajari cara memanah. Dengan senang hati Arjuna memenuhi permintaan Srikandi. Di taman Maduganda, dalam Kasatrian Madukara dengan tekun Srikandi belajar memanah. Keberadaan Srikandi di Madukara akhirnya diketahui oleh Dewi Drupadi yang langsung datang dan memarahi adiknya karena telah membuat malu keluaraga. Tentu akan timbul fitnah karena Arjuna sudah beristri. Srikandi disuruh segera pulang.

Dalam perjalanan pulang Dewi Srikandi dicegat oleh bala tentara raksasa dari Kerajaan Paranggubarja. Mereka hendak menangkap putri Cempalaradya itu, tetapi kali ini Srikandi telah lebih mahir menggunakan panah dan busurnya. Banyak raksasa yang mati di tangan Srikandi. Hal ini membuat marah Prabu Jungkungmardeya, namun Arjuna dapat membunuh raja yang tampan itu.
Setelah Dewi Srikandi berada kembali di Kerajaan Cempalaradya, keluarga Pandawa datang melamar Dewi Srikandi untuk Arjuna.

Di luar dugaan ternyata Srikandi tidak begitu saja mau menerima lamaran itu. Ia mengajukan syarat, kalau Arjuna dapat memulihkan Taman Maerakaca yang rusak akibat ulah para raksasa dari Kerajaan Paranggubarja dalam tempo semalam, dan kemudian menyediakan lawan tanding wanita yang bisa mengungguli kemahirannya memanah, barulah Srikandi mau menjadi istri Arjuna.

Kedua syarat itu ternyata dapat dipenuhi Arjuna. Sebagai lawan tanding bagi Dewi Srikandi, Arjuna membawa salah seorang istrinya yang bernama Dewi Larasati. Istri Arjuna ini juga mahir menggunakan busur dan anak panahnya. Waktu Dewi Srikandi membuktikan dirinya sanggup memotong sehelai rambut dengan anak panahnya, Dewi Larasati ternyata sanggup membelah rambut itu. Akhirnya Dewi Srikandi mengaku kalah. Maka, perkawinan antara Arjuna dan Dewi Srikandi pun berlangsung.

Suatu saat, atas bantuan Batara Narada, Dewi Srikandi pernah berubah ujud menjadi pria dengan nama Bambang Kandihawa. Ia juga bertukar kelamin dengan Begawan Amintuna, seorang brahmana raksasa, sehingga dapat kawin dengan Dewi Durniti, putri Prabu Dike dari Kerajaan Manimantaka.

Perkawinan ini membuahkan seorang anak yang diberi nama Nirbita alias Niwatakawaca. Sesudah mempunyai anak, Bambang Kandihawa menukar kembali alat kelaminnya dengan Begawan Amintuna, serta menjelma kembali menjadi Dewi Srikandi. (Baca juga Durniti, Dewi)
Dalam Baratayuda, Dewi Srikandi diangkat sebagai senapati setelah Resi Seta gugur. Hal ini diatur oleh Prabu Kresna selaku ahli siasat, karena pihak Kurawa menampilkan Resi Bisma sebagai maha senapati.
Tidak seorang pun dari para Pandawa yang merasa mampu menghadapi Resi Bisma. Kresna tahu bahwa pengapesan ‘titik kelemahan’ Bisma adalah bilamana orang sakti itu berhadapan dengan prajurit wanita. Raja Dwarawati lalu mengusulkan Srikandi menjadi senapati di pihak Pandawa.

Manakala berhadapan dengan Resi Bisma pada awalnya Dewi Srikandi enggan mulai menyerang. Meskipun tidak punya hubungan kekeluargaan secara langsung, Putri Campala itu merasa sungkan dan hormat terhadap lawannya yang telah berusia lanjut itu. Bisma yang telah mendapat firasat bahwa ajalnya sudah dekat, justru menyongsong kehadiran Dewi Srikandi di medan laga. Ia tahu bahwa saat itulah arwah Dewi Amba datang menjemputnya.

Karena Dewi Srikandi tidak juga mau menyerangnya, Bisma mulai melepaskan anak panahnya. Sengaja ia membidik satu atau dua jengkal dari sasaran karena pahlawan tua itu tidak mau melukai istri Arjuna yang menjadi lawannya. Srikandi tetap tidak membalas, hanya mengelak atau menangkis anak panah yang mengarah kepadanya. Putri Cempalaradya masih belum sampai hati untuk membalas menyerang Resi Bisma yang amat dihormatinya itu.

Ganggadata alias Bisma tidak sabar lagi. Kali ini dibidiknya baik-baik sasaran yang dituju, dan sesaat kemudian anak panahnya meluncur deras. Dewi Srikandi tidak sempat lagi mengelak. Anak panah Bisma ternyata tepat membabat simpul ikatan kain semekan, atau kemben yang dikenakan Dewi Srikandi, sehingga kain penutup payudara itu lepas. Bukan main panas hati Dewi Srikandi. Dalam keadaan hati yang panas karena dipermalukan seperti itu badan halus Dewi Amba menyusup masuk ke tubuh Srikandi. Sambil berlari menjauhi Resi Bisma, Dewi Srikandi sibuk membetulkan kembennya. Begitu selesai, segera prajurit wanita itu menggunakan senjata andalannya, panah sakti Harda Sengkali sebagai senjata pamungkas. Namun, waktu itu Srikandi telah berada jauh dari Bisma, sehingga anak panah Sengkali tidak dapat meluncur deras. Karena khawatir Sengkali tidak dapat melaju sampai ke sasaran, Prabu Kresna memberi isyarat pada Arjuna. suami Srikandi ini segera tanggap akan isyarat itu. Secepat kilat dilepaskannya panah pusaka Arda-dedali yang meluncur mendorong panah Harda Sengkali. Berkat dorongan Ardadadali (Harda Dedali), Sengkali melesat deras menembus dada Resi Bisma. Seketika itu juga Bisma rebah.
Akhir hidup Dewi Srikandi cukup tragis. Bersama adiknya, Drestajumena, dan Pancawala anak Yudistira, Srikandi menjadi korban pembunuhan Aswatama. Beberapa hari sesudah Bharatayuda usai Aswatama pada suatu malam berhasil menyusup ke perkemahan para Pandawa dan membunuh secara pengecut mereka ketika sedang lelap tidur.

Berbagai lakon dalam Wayang Purwa, peran Dewi Srikandi cukup menonjol sebagai penjaga keamanan Kerajaan Amarta maupun Kasatrian Madukara yang cepat bertindak dan berani mengambil keputusan pada saat-saat genting.

Misalnya, dalam lakon Subadra Larung, ia mengejar pembunuh Dewi Subadra yang ternyata adalah Burisrawa. Dalam lakon Mustakaweni ia juga mengejar Gatotkaca palsu yang mencuri Jamus Kalimasada. Dalam lakon Danumaya, Dewi Srikandi juga menghalangi usaha penculikan Dewi Subadra oleh Patih Mandanasraya yang menyaru sebagai Kresna.

Sementara itu, dalam lakon Pandawa Pitu, Dewi Srikandi dan Dewi Subadra pernah melakukan triwikrama, sehingga menjelma menjadi brahala, raksasa yang amat besar. Mereka pergi ke kahyangan untuk melabrak para dewa.

Dalam Kitab Mahabharata, Srikandi yang digambarkan sebagai seorang pria yang kebanci-bancian. Ia adalah titisan Dewi Amba, yang dulu mati bunuh diri setelah gagal membalas dendam pada Resi Bhisma yang dianggapnya telah menyengsarakan cintanya. (Dalam pewayangan kematian Dewi Amba adalah karena secara tidak sengaja terbunuh oleh panah Bhisma).
Berbeda dengan di pewayangan, dalam Kitab Mahabharata, Sihkandin (Srikandi) tidak pernah menjadi istri Arjuna. Ia ikut serta dalam Bharatayuda karena negrinya, Cempala menjadi sekutu Pandawa. Bukan karena ia istri arjuna.

Pada seni rupa wayang kulit purwa gagrak Yogyakarta tokoh Srikandi ditampilkan dalam wanda Golek untuk adegan jejer; wanda Nenes untuk adegan bersenang-senang; dan wanda Patrem untuk adegan perang. Pada tahun 1980-an diciptakan Srikandi wayang jangkahan ‘kakinya melangkah seperti lelaki’ yang biasanya digunakan khusus pada lakon-lakon Bharatayuda.
Lakon-lakon Yang Melibatkan Srikandi antara lain: Bambang Kandihawa, Srikandi Maguru Manah, Mbangun Taman Maerakaca, Mustakaweni, Sembadra Larung, Srikandi Edan, Bisma Gugur, Aswatama Nglandak
Dewi Srikandi yang pemberani itu bersuara nyaring, kenes ‘lantang, renyah agak genit’. (*)

GIAT TNI - POLRI$type=carousel






JEJAK SPIRITUAL$type=complex$count=4

Portal News - NETIZENWORD.com. Berbagi informasi, tentang : sejarah, budaya, spiritual, wisata daerah, peristiwa dan informasi publik, berkontribusi sebagai Media Warga, untuk memberikan informasi dari berbagai peristiwa, kegiatan, baik daerah maupun nasional
Name

Artikel,63,Baksos,18,Balon Laka - Lantas,3,Balon Lebaran,2,Balon Udara,4,Bangkalan,2,Bendungan Bendo,1,Berita,257,Bhayangkari,8,BPD,1,Budaya,2,Cegah Covid-19,130,Cerita Bermakna,20,Cirebon,2,CPNS,1,Cuaca,12,Daftar Raja - Raja Majapahit,1,Dana Desa 2020,3,Dana Desa 2021,1,Daya Spiritual,5,Demak,1,Desa Gondowido,1,Dewan,28,DPRD,1,Dunia Spiritual,6,Ekonomi,29,Fenomena Alam,7,Giat,309,Gresik,24,Hukum,1,Info kesehatan,23,Iptek,8,Jatim,49,Javanese Spiritual,12,Jejak Spiritual,11,Jember,1,Kabar-kabari,3,Kabupaten ODF,1,Kampung Tangguh Semeru,4,Kasus,51,Kebakaran,1,Kebangsaan,1,Keris,9,Kesehatan,3,Kodim 0802/Ponorogo,3,Kuliner,9,Kunker,1,Laka - Lantas,14,Madiun,49,Magetan,4,Mitos - Mistik,12,Mobil Covid Hunter,1,Mojokerto,1,Narkoba,10,Olah raga,4,Operasi Patuh,1,Operasi Zebra,1,Ops Yustisi,3,Orang Meninggal,11,Outomotif,1,Pacitan,2,Pekanbaru,5,Pembangunan,4,Pendidikan,11,Penemuan,5,Peristiwa,64,Pertanian,5,Pesona Indonesiaku,30,Photo News,1,Pilkada,15,PKS Ponorogo,1,Polda Jatim,12,Polres,139,Polres Ponorogo,7,Polres Sukorejo,1,Polri,324,Polsek Bungkal,1,Polsek Mlarak,1,Polsek Pulung,1,Polsek Siman,2,Polsek Slahung,1,Polsek Sooko,2,Polsek Sukorejo,2,Ponorogo,285,Presiden Joko Widodo,1,Program PTSL,1,PSHT Pusat Madiun,1,Publik,23,Puncak Jaya,72,Religi,13,Reyog,1,Riau,3,Satlantas,1,Satpol PP,3,Sejarah,139,Sugiri Sancoko,1,Sumenep,1,Tanaman Bermanfaat,30,Tips Bermanfaat,7,TNI,71,Tokoh,42,TP PKK,13,Tradisi,8,Trenggalek,2,Umum,10,Vaksinasi,8,Virus Corona,20,Waduk Bendo,1,Wayang,8,Wisata Daerah,50,Wisata Religi,17,
ltr
item
Netizen Word: Mengenal Sosok Srikandi Dalam Tokoh Pewayangan
Mengenal Sosok Srikandi Dalam Tokoh Pewayangan
https://1.bp.blogspot.com/-rnpVFHpbN5Q/XRn469ebRpI/AAAAAAAABww/WJdEkPX3Nxs16JLqalfqAIZqqZ9EwByigCEwYBhgL/s320/IMG-20190701-WA0009.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-rnpVFHpbN5Q/XRn469ebRpI/AAAAAAAABww/WJdEkPX3Nxs16JLqalfqAIZqqZ9EwByigCEwYBhgL/s72-c/IMG-20190701-WA0009.jpg
Netizen Word
http://www.netizenword.com/2019/07/ilustrasi-salah-satu-tokoh-dalam-wayang.html
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/
http://www.netizenword.com/2019/07/ilustrasi-salah-satu-tokoh-dalam-wayang.html
true
1914908294925827969
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy